| |
Surat Kabar Tribun Timur, Makassar | |
Sumber: Tribun Timur, Makassar | Minggu, 17-08-2008 | | Google Adsense Ala Indonesia | | Cara Dapat Uang dari Iklan Blog | KEPOPULERAN internet telah menjadikannya sebagai sarana bagi banyak orang untuk menggantungkan hidup dan mencari nafkah. Bahkan, tidak sedikit penggunanya (sebut saja publisher alias pemilik blog/situs web) yang mampu menggaet pendapatan lebih dari cukup berkat website yang dimilikinya. Hebatnya, mereka rata-rata masih berusia muda, sekitar 17-35 tahun. Umumnya, para publisher ini sukses mengeruk dolar dari program penyedia layanan iklan seperti Google Adsense, Adbrite, Text Link Ads, Chitika, Kontera, dan rekan-rekannya. Di antara sekian banyak layanan yang berbasis di Eropa dan Amerika ini, Google Adsense bisa dibilang merupakan salah satu penyedia yang paling populer di kalangan publisher Tanah Air. Sayang, aturannya (alias Term of Service) dibuat semakin ketat saja sehingga kesempatan para publisher untuk mencari uang dari blognya kian terbatas. Tapi tak perlu berkecil hati, karena kini tidak sedikit situs web Indonesia yang membuat layanan sejenis. Bererapa di antaranya adalah sebagai berikut. | KLIKSAYA.COM Situs web ini akan membayar Anda berdasarkan berapa banyak klik yang dilakukan pengunjung terhadap iklan yang terpasang di sana. Karena status pengunjung ditentukan berdasarkan IP, maka jika ada banyak komputer yang mengklik banner di website Anda yang memiliki satu IP publik, maka tetap saja jumlah yang akan dibayarkan kepada Anda adalah satu klik saja. Kliksaya.com menyediakan akun khusus bagi penggunanya sehingga Anda bisa dengan mudah memeriksa berapa pendapatan yang telah diperoleh. Dan, idem dengan google Adsense, layanan ini juga menawarkan banner dalam berbagai ukuran -baik gambar maupun teks saja. Berapa nilai per klik dari iklan yang ditampilkan akan ditentukan oleh masing-masing pemasang iklan alias advertiser. KUMPULBLOGGER.COM Memfokuskan diri pada layanan iklan berbentuk teks, Kumpulblogger.com menyediakan beberapa jenis dan ukuran banner. tapi, istimewanya, situs web ini mematok nilai per klik yangsama untuk iklan apapun (namun dapat berubah sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh penyelenggara). Ketika tulisan ini dibuat, untuk satu kali Unik Klik Tipe Teks Links, seorang advertiser (pemasang iklan) akan dikenai biaya sebesar Rp 500. Sementara untuk tipe Mini Banner, biaya per satu kali unik klik adalah Rp 700. Nah, dari nilai tersebut, blogger berhak mendapatkan Rp 300 untuk setiap klik yang diakui. Menilik jumlah member yang terus bertambah, layanan ini bisa dibilang sedang naik daun. PPC Indonesia (www.ppcindo.com) Program afiliasi yang satu ini termasuk yang tertua di Indonesia, dan bukanlah suatu hal yang aneh jika anggotanya juga terbilang paling banyak. Di sini harga iklan per klik untuk advertiser adalah Rp 200, di mana blogger/publisher akan mendapatkan bagian sebesar Rp 100 per klik TINGGALKLIKADS (www.tinggalklik.com/ads) SELAIN menyediakan layanan pay per click, situs web ini juga menawarkan layanan pay per sales tau pay per sign up, di mana setiap blogger yang bisa membantu advertiser menjual produk/layanannya atau membuat salah satu pengunjungnya menjadi anggota sebuah layanan akan mendapatkan nilai tertentu (sekitar lima sampai 20 persen) dari nilai penjualan. daftar penerbit (kliksaya.com) Lautan Indonesia (www.lautanindonesia.com/forum): berisi informasi mengenai acara TV, politik, pendidikan, atau ingin mempunyai banyak teman STAFA Band: merupakan situs penyedia fasilitas unduh MP3 lagu Indonesia dan mancanegara secara gratis, mudah, dan yang selalu di-update setiap hari) gudang lagu (gudanglagu.com): situs komunitas pencinta musik Indonesia. Lengkap dengan lirik dan video clip. Juga disertai dengan tangga lagu Indonesia terbaru) Miss Hacker Blogs: tempat mencari anime, musik Indonesia dan musik mancanegara. Semua koleksi album dari album musik terdahulu sampai yang terbaru ada di sini, juga dapat mengunduh sampel lagu dari album musik yang akan beredar di pasaran PintuNet.com: review produk oleh konsumen, situs konsumen Indonesia, forum konsumen, peringkat produk, informasi penting sebelum membeli produk pendapatan penerbit terbesar (kumpulblogger.com) Nama: Rifqi Ali n Total Klik Text Link: Rp 458.700 n Total Klik Mini Banner Rp 3.600 n Total Refferal Text Link Rp 5.800 n Total Referral Mini Banner Rp 0 n Total Refferal Advertiser Text Link: Rp 0 n Total Referral Advertiser Mini Banner Rp 0 n Total Rp Rp 468.500 Nama: August Leo n Total Klik Text Link Rp 306.900 n Total Klik Mini Banner Rp 0 n Total Refferal Text Link Rp. 47.625 n Total Referral Mini Banner Rp 0 n Total Refferal Advertiser Text Link: Rp 1.500 n Total Referral Advertiser Mini Banner Rp 0 n Total Rp 358.175 Tribun Smart Sumber: Tabloid PCplus edisi 314 Tahun VII, 05-18 Agustus 2008 Rubrik: Aktual Halaman 6 |
-- Tribun Timur, Surat Kabar Terbesar di Makassar http://www.tribun-timur.comFORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR tribun.freeforums.org Usefull Links: http://jurnalisme-makassar.blogspot.comhttp://jurnalisme-tv.blogspot.comhttp://jurnalisme-radio.blogspot.com http://jurnalisme-blog.blogspot.comhttp://makassar-updating.blogspot.comhttp://makassar-bugis.blogspot.com
Sumber: Tribun Timur, Makassar | Selasa, 19-08-2008 | | Dewan Pers Perjelas Wartawan Sungguhan |  | PASCAREFORMASI, penerbitan pers tumbuh pesat. Ada yang profesional, ada pula yang tidak. Ada wartawan yang profesional, dalam arti berusaha konsisten menjalankan kode etik jurnalistik, ada pula wartawan yang serampangan dan gadungan. Untuk menata kehidupan pers yang bermartabat, Dewan Pers saat ini tengah menyusun standarisasi perusahaan pers. Akibatnya nanti, hanya wartawan di perusahaan pers yang memenuhi standar itu yang bisa dinilai sebagai benar-benar wartawan. | Hal ini diungkapkan anggota Dewan Pers Bakti Nugroho dalam diskusi 14 Tahun AJI Makassar di Societeit de Harmonie, Makassar. Tema diskusi ini Lawan Kriminalisasi Pers, Tegakkan Etika Jurnalistik. Selain Bakti, pembicara lain adalah Pemimpin Redaksi Tribun Timur Dahlan dan Anggota Komisi Penyiaran Independen Sinansari Ecip. Persoalan perlawanan terhadap kriminalisasi pers juga mengandung introspeksi terhadap perilaku wartawan. Selama ini, diakui atau tidak, memang ada wartawan yang bekerja serampangan dan merugikan pihak lain. Tidak mengindahkan etika jurnalistik. Bahkan suka amplop dan memeras. Menganai efektivitas standarisasi itu, Bakti mengatakan ini terpulang ke masyarakat. Paling tidak menjadi rujukan kepada masyarakat mana perusahaan dan wartawan yang bisa dipercaya dan mana yang tidak. "Kami adalah lembaga etik. Makanya ini terpulang ke masyarakat. Seperti standarisasi organisasi jurnalis hanya tiga yang diakomodir Dewan Pers, yaitu PWI, AJI, dan IJTI. Tapi organisasi yang lain kami tidak bisa melarangnya," katanya. Anggota Komisi Penyiaran Independen (KPI), Sinansari Ecip, mengatakan, selama ini perusahaan pers yang besar biasanya adalah perusahaan yang independen. Sedangkan yang partisan atau tidak profesional sulit menjadi perusahaan besar. |
Berita Terkait: -- Tribun Timur, Surat Kabar Terbesar di Makassar http://www.tribun-timur.comFORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR tribun.freeforums.org Usefull Links: http://jurnalisme-makassar.blogspot.comhttp://jurnalisme-tv.blogspot.comhttp://jurnalisme-radio.blogspot.com http://jurnalisme-blog.blogspot.comhttp://makassar-updating.blogspot.comhttp://makassar-bugis.blogspot.com
Sumber: Tribun Timur, Makassar | Selasa, 19-08-2008 | | Terminal Baru Bandara Beroperasi Penuh |  | Makassar, Tribun - PT Angkasa Pura I Cabang Bandara Internasional Sultan Hasanuddin memastikan, seluruh fasilitas yang terdapat di terminal penumpang yang baru telah beroperasi secara penuh. "Terminal sudah full operation. Kami mengimbau agar warga pengguna terminal baru ini memanfaatkan fasilitas secara baik," ujar Asisten Manajer SIM Tapor dan Humas PT Angkasa Pura I Cabang Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Yan Daulima, di Makassar, Senin (18/8). | Terminal baru yang lima kali lebih luas dari terminal lama itu sudah dibuka untuk penerbangan berjadwal sejak 4 Agustus lalu. Saat itu, statusnya masih shadow operation alias belum dioperasikan penuh. Baru pada 15 Agustus lalu, terminal itu resmi full operation. Yan menjelaskan, pihaknya telah melaksanakan rekomendasi Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Departemen Perhubungan RI agar segera melengkapi berbagai kekuarangan. Antara lain jalan akses bandara, penyelesaian beberapa bagian dalam terminal, pengaturan arus penumpang. Dengan full operation itu, pengelola bandara tersebut memberlakukan beberapa peraturan. Peraturan itu di antaranya tidak memperbolehkan kendaraan penjemput untuk parkir di drop zone (depan teras) dan penjemputan dilakukan di pick up zone (basement). Selain itu, taksi bandara juga hanya melayani on call. Artinya, calon penumpang taksi mendaftar lebih dulu. Taksi tidak tersedia di muka teras terminal terparkir di area parkir khusus. Kemudian penumpang naik taksi dari pick up zone. Tetapi, pihak Bandara Internasional Sultan Hasanuddin belum memastikan jadwal peresmiannya. "Rencananya akan diresmikan oleh Presiden atau Wakil Presiden RI. Tetapi ini tergantung kesediaan Beliau, tentunya terkait dengan pengaturan acara di sekretariat negara," kata Yan.(jid) Tol Sutami Buka Usai Lebaran MEGA proyek lain di Makassar, jalan tol seksi IV (JTSE), Sutami, juga direncanakan akan beroperasi penuh 30 Oktober mendatang. "Saat ini, lebih dari 95 persen kemajuan pembangunan yang telah dicapai," ujar Direktur PT JTSE, Aslam Katutu. JTSE sekarang dalam tahap finishing meliputi pembuatan marka jalan, rambu-rambu, dan lainnya. Tahap selanjutnya uji kelaikan operasi oleh Badan Pengatur Jalan Tol Departemen Pekerjaan Umum. Jalan tol ini membentang sepanjang kurang lebih 11 kilometer, menghubungkan Bandara Hasanuddin Baru ke pusat Kota Makassar. Dengan jalan tol ini, waktu perjalanan dari pusat Kota Makassar menuju bandara menjadi singkat. |
-- Tribun Timur, Surat Kabar Terbesar di Makassar http://www.tribun-timur.comFORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR tribun.freeforums.orgUsefull Links: http://jurnalisme-makassar.blogspot.comhttp://jurnalisme-tv.blogspot.com http://jurnalisme-radio.blogspot.comhttp://jurnalisme-blog.blogspot.comhttp://makassar-updating.blogspot.com http://makassar-bugis.blogspot.com
| Sabtu, 26-07-2008 | | Praktisi Radio di Makassar Bentuk Wadah Berhimpun |  | Makassar, Tribun - Sejumlah praktisi radio penyiaran di Kota Makassar membentuk satu wadah berhimpun. Namanya Asosiasi Praktisi Radio Siaran (Aprasi) Sulawesi Selatan. Organisasi profesi ini dicetuskan oleh Faisal Raditya (Radio Suara Celebes), Fian Reinaldy (Radio Mercurius Top FM), Idris Muhammad (Radio Mercurius Top FM), Fikry Wardana (Konsultan 68H), dan Doni Dinar (Mercurius Top FM) | Juga ikut mencetuskan Darul Aksa (Radio Bharata FM), Wawan (Radio Gamasi FM), Ardin (Radio Suara Celebes), Hendra (TSFM), dan Nena (Radio Gama). "Deklarasi Aprasi Sulsel ini pada 8 Agustus 2008 di Makassar," jelas Humas Aprasi Sulsel Idris di Warkop 99 di Jl Mappanyukki No 99, Makassar, sekaligus sekretariat Aprasi Sulsel, Jumat (25/7). |
-- Tribun Timur, Surat Kabar Terbesar di Makassar http://www.tribun-timur.comFORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR tribun.freeforums.org Usefull Links: http://jurnalisme-makassar.blogspot.comhttp://jurnalisme-tv.blogspot.comhttp://jurnalisme-radio.blogspot.com http://jurnalisme-blog.blogspot.comhttp://makassar-updating.blogspot.comhttp://makassar-bugis.blogspot.com
Sumber: Tribun Timur, Makassar Rabu, 27-02-2008 | | Spirit Cianjur untuk Televisi Kabel | Opini Tribun | Oleh: A Taddampali, Wakil Ketua KPID Sulawesi Selatan Pada tanggal 19 - 22 Februari 2008, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menyelenggarakan Rapat Pimpinan (rapim) KPI Bidang Perizinan di Hotel Yasmin, Cianjur, Jawa Barat, yang diikuti oleh seluruh Koordinator Bidang Perizinan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) se Indonesia. | Salah satu agenda rapim dan mendapat perhatian yang cukup serius adalah persoalan televisi kabel. Perkembangan penyiaran di Indonesia memang cukup pesat. Hanya saja, perkembangan itu tidak dibarengi dengan perluasan jangkauan siaran melalui pendirian menara pemancar di berbagai daerah. Masih ada daerah yang belum terjangkau oleh siaran televisi. Ceruk pasar inilah yang dimasuki oleh para pengusaha televisi kabel yang saat ini marak bermunculan di berbagai daerah di Indonesia. Televisi kabel dibangun untuk mengatasi kesulitan penerimaan siaran televisi yang dialami oleh daerah-daerah dengan penerimaan sinyal yang buruk dan bahkan tidak ada sinyal sama sekali atau obstacle. Caranya cukup sederhana. Operator televisi kabel menangkap siaran melalui antena parabola lalu men-sharing atau menyambungkan kepada pelanggannya melalui kabel coaxial tanpa bisa melakukan sensor siaran atau konten. Serat Optik Keberadaan televisi kabel semacam ini memang tidak lepas dari sejarah penyiaran kita. Prihadi Murdiyat menyebutkan bahwa kabel telah menjadi penghubung yang efektif antara operator siaran televisi dan pelanggannya. Menurut literatur, sistem televisi kabel pertama dibuat pada tahun 1948 dengan menggunakan kabel jenis twin head. Kabel ini berbentuk pita seperti yang dipasang pada televisi hitam putih. Sistem berikutnya dibuat pada tahun 1950 dan telah menggunakan kabel coaxial. Kabel ini tersusun dari konduktor dalam yang diselimuti isolator dan konduktor luar seperti yang dipasang antara antena dan pesawat televisi saat ini. Pada perkembangan selanjutnya, media penghubung itu juga memanfaatkan jaringan microwave, satelit, dan kabel serat optik. Pada tahun 1948, Ed Parson yang tinggal di Astoria, Oregon, membuat sistem community antenna television (CATV) dengan media kabel twin head dan dipasang dari satu atap rumah ke atap rumah lain. Lalu pada tahun 1950 Bob Tarlton membangun sistemnya di Landford, Pennsylvania, dengan menggunakan kabel coaxial yang dipasang pada tiang. Model inilah yang kemudian banyak digunakan oleh penyelenggara televisi kabel, termasuk yang marak di berbagai daerah di Indonesia. Pada perkembangan selanjutnya, bisnis televisi kabel telah menjadi lahan yang menggiurkan. Keuntungan yang diperoleh dari usaha ini lumayan besar. Maka bermunculanlah para pengusaha televisi kabel di daerah. Ada yang mempunyai pelanggan hingga ratusan rumah, tetapi ada juga yang mempunyai pelanggan puluhan rumah saja. Tidak Senafas Namun saat ini masih sering terjadi persinggungan diantara para pengusaha televisi kabel di daerah. Pemicunya juga beragam. Tetapi yang paling sering adalah akibat persaingan usaha dan perebutan pelanggan. Di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan bahkan ada dua pengusaha televisi kabel yang bersitegang dan berujung pada bentrok fisik. Untuk menarik pelanggan, bahkan ada kasus pengusaha televisi kabel yang menyiarkan video porno. Kini kasusnya sudah ditangani oleh kepolisian. Memang semestinya di Indonesia ada regulasi tentang lembaga penyiaran berlangganan yang yang di dalamnya termasuk yang akan menggunakan satelit, teresterial, dan kabel. Penggunaan satelit biasanya untuk lingkup nasional, sedangkan penggunaan teresterial adalah untuk nasional dan lokal, sementara penggunaan kabel hanya di tingkat lokal. Ketentuan Umum Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (UU Penyiaran) menyebutkan; Penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan/atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran. Berdasarkan ketentuan itu, maka televisi kabel masuk dalam domain penyiaran. UU Penyiaran sendiri hanya mengakomodir empat lembaga penyiaran, yakni Lembaga Penyiaran Publik, Lembaga Penyiaran Swasta, Lembaga Penyiaran Komunitas, dan Lembaga Penyiaran Berlangganan (Pasal 13 Ayat 2). Sesuai dengan model pemancarluasannya yang hanya diterima oleh para pelanggannya, maka televisi kabel tergolong Lembaga Penyiaran Berlangganan. Untuk teknis pelaksanaannya, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 52 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Penyiaran Lembaga Penyiaran Berlangganan. Namun PP tersebut rupanya tidak senafas dengan praktik penyelenggaraan televisi kabel. Frame pembuatan PP tersebut adalah praktik televisi berlangganan seperti Indovision, Cable Vision, dan semacamnya, sehingga syarat administrasi dan perizinannya sangat berat bagi pengelola televisi kabel di daerah. Akibatnya, terjadi pelanggaran copyright atau hak cipta di bidang penyiaran oleh penyelenggara televisi kabel. Rapim KPI di Cianjur itu kemudian melahirkan berbagai rekomendasi terkait televisi kabel. KPI berpendapat bahwa maraknya televisi kabel di berbagai daerah di Indonesia, terutama di wilayah blank spot, adalah merupakan potensi lokal yang sangat berkaitan erat bagi kepentingan distribusi informasi dan ekonomi masyarakat daerah yang perlu mendapatkan perhatian. Berdasarkan asas manfaat yang dianut dalam UU Penyiaran, televisi kabel telah membantu upaya redistribusi siaran kepada masyarakat yang berada di wilayah blank spot atau dengan kualitas siaran televisi yang kurang baik. Untuk itu, televisi kabel harus diarahkan agar dapat berjalan sesuai dengan koridor hukum dan peraturan yang berlaku. Rapim KPI juga mengamanatkan agar segera disusun konsep peraturan yang dapat mengakomodir keberadaan televisi kabel serta penyusunan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) yang mengatur tentang Lembaga Penyiaran Berlangganan. Yang menarik, Rapim juga mengamanatkan agar KPI Pusat berkoordinasi dengan Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) untuk menyusun sebuah Peraturan Menteri (Permen) atau Surat Keputusan Bersama terkait dengan Lembaga Penyiaran Berlangganan agar dapat menyerap aspirasi keberadaan televisi kabel. Rekomendasi-rekomendasi dari Rapim KPI di Cianjur itu sedikit banyak telah melegakan berbagai pihak, terutama yang terkait dengan televisi kabel. Ada semangat baru untuk menjalankan tugas dan kewajiban KPI sesuai amanat UU Penyiaran, salah satunya adalah menjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan benar sesuai dengan hak asasi manusia. Bagi pengusaha televisi kabel sendiri diharapkan membentuk asosiasi dan menetapkan kode etik bersama agar ada aturan yang bisa ditaati bersama. Asosiasi ini juga yang nantinya akan melakukan kerja sama dengan penyelenggara Lembaga Penyiaran Berlangganan yang sesungguhnya dan selama ini kontennya telah dimanfaatkan oleh pengusaha televisi kabel untuk disiarkan kepada para pelanggannya. Tentunya kerja sama itu melalui perhitungan bisnis yang disepakati bersama. Misalnya asosiasi televisi kabel inilah yang akan mengurus soal biaya hak cipta penyiaran dari masing-masing anggotanya. Dengan demikian, tidak ada lagi pelanggaran hak cipta seperti yang selama ini terjadi. Spirit Cianjur itu telah memberikan harapan baru kepada semua pihak. Kita berharap status hukum televisi kabel di daerah akan semakin jelas. Dengan demikian masyarakat sebagai pengguna juga akan semakin nyaman menerima siarannya dan pada akhirnya akan mendorong terbentuknya masyarakat informasi di daerah-daerah. Yang tak kalah pentingnya, spirit Cianjur telah menjadi tanda semakin membaiknya hubungan antara KPI dan Pemerintah, dalam hal ini Depkominfo. |
-- Tribun Timur, Surat Kabar Terbesar di Makassar http://www.tribun-timur.comFORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR tribun.freeforums.orgUsefull Links: http://jurnalisme-makassar.blogspot.comhttp://jurnalisme-tv.blogspot.com http://jurnalisme-radio.blogspot.comhttp://jurnalisme-blog.blogspot.comhttp://makassar-updating.blogspot.com http://makassar-bugis.blogspot.com
Sumber: Tribun Timur, Makassar Rabu, 28-05-2008 | | Era Televisi Jaringan Merambah Makassar | Opini Tribun | Oleh: Ano S, Staf Biro Trans Tv Makassar Pentingnya kehadiran televisi nasional menyiar di Makassar ini setidaknya akan memberikan nuansa dan warna tersendiri bagi dinamika kota Makassar. Karena bukan hanya berita spot yang akan menjadi santapan tivi-tivi berjaringan tersebut tapi produser-produser akan membentuk program yang mengangkat cerita dan khas Sulawesi-Selatan termasuk Makassar.Era Televisi Jaringan Merambah Makassar. | Tahun 2008 ini Makassar benar-benar akan menjadi sebuah tonggak awal menuju kota yang lebih modern. Mau tak mau kota yang dihuni sekitar 4 juta rakyat ini harus siap menghadapi segala perubahan demi perubahan. Sekarang, apakah kita sudah siap menuju ke sana? Saya akan mengajak Anda melihat dari sudut pandang kehadiran tivi nasional yang akan bersinergi dengan tivi lokal atau tivi nasional yang membentuk biro lokal di kota pintu gerbang Indonesia Timur ini. Pasalnya, modernitas sebuah kota dan peradaban sebuah manusia tak lepas dari peranan televisi. Kalau mau lihat dunia, mau menguasai dunia-tak perlu mengeluarkan recehan yang banyak. Tak perlu mengeluarkan uang sampai sejuta kita sudah bisa menyaksikan berbagai belahan dunia. Cukup dengan cara membeli televisi berdimensi 14 sampai 21 inci maka Anda sudah menguasai dunia bahkan Anda akan diajak oleh televisi dengan berbagai macam programnya untuk melihat keajaiban dunia. Tiga tahun terakhir ini kita benar-benar telah dibius oleh kehadiran televisi. Bukan hanya kreativitas anak-anak Indonesia melalui program televisi nasional yang kita bisa nonton melainkan juga program tivi asing melalui jendela tivi kabel atau tivi digital. Kehadiran Indovision serta Astro Tivi telah membawa kita melanglang buana melalui layar televisi. Sementara 13 tivi yang berkantor pusat di Jakarta dan telah menyiar secara serempak di Indonesia juga tak kalah bersaingnya menyajikan program yang membius kita untuk menyaksikan keunikan suku terkecil di Indonesia, hingga melanglang buana ke benua Afrika, Arab, Eropa hingga Amerika Serikat. Di Trans TV misalnya, melalui program Jelajahnya-kita bisa disuguhi aktivitas suku Kajang di Bulukumba, suku tradisionil di Seko Luwu Utara hingga membawa kita melanglang ke Puncak Himalaya. Walau bukan kita yang ke sana-tapi secara hirarki bentuk tubuh, bahasa dan budaya-seolah kita hadir di sana-tepat di Puncak Himalaya. Begitu pula program RCTI, American Idol. Sebelumnya tak pernah kita mengetahui lahirnya artis-artis Amerika. Tapi saat RCTI menghadirkan program tersebut maka dengan mudah kita bias melihat bagaimana kekocakan orang-orang Amerika sebelum menjadi seorang artis. Tak ubahnya dengan keseharian kita. Tahun 2008 ini, jendela udara Kota Makassar akan makin ramai dengan kehadiran televisi berjaringan atau televise nasional yang selama ini berpusat di Jakarta akan membentuk biro yang nantinya akan bekerja sama dengan tivi- tivi lokal. Seharusnya, tivi nasional itu diberi batas waktu membentuk jaringan di daerah medio 28 Desember 2007 lalu namun pemerintah menundanya hingga 28 Desember 2009. Kalau saya menyimak tampaknya tak sampai tahun 2009 nanti tivi nasional itu akan membentuk sinergi di kota Makassar. Artinya-layar udara Makassar akan ramai dengan jendela televisi nasional berbasis lokal. Nyaris tidak ada celah lagi-kejadian demi kejadian di sudut-sudut Kota Makassar yang akan tersembunyi atau tidak diketahui oleh masyarakat lainnya. Akan ada ratusan kamera televisi yang akan menyorot aktivitas warga Kota Makassar. Siapkah Kita? Kenapa tak sampai tahun 2009 sesuai aturan pemerintah? Karena kurun waktu dua tahun terakhir ini Kota Makassar mengalami peningkatan yang cukup pesat. Bukan saja dari segi peningkatan prosentase ekonomi tapi yang sangat signifikan terlihat adalah Makassar tanpa disadari perlahan-lahan membawa kita ke kota yang bergaya metropolitan. Pertengahan tahun ini atau paling lambat pertengahan tahun 2009, mega proyek yang ditandai kehadiran gedung pencakar langit, Air Port Hasanuddin Makassar, Studio Trans atau Disnayland ala Makassar akan hadir dengan sempurna di kota ini. Artinya, Makassar akan menjadi sebuah ibu kota negara kedua di Indonesia setelah DKI Jakarta. Sementara kemajuan dalam bidang politik, sosial dan gerakan semakin menjadi barometer bagi pemerintah pusat untuk memgambil sebuah kebijakan nasional. Mau tak mau pemilik televisi akan mengikuti ritme perkembangan Kota Makassar tersebut. Mereka tidak lagi memandang Makassar sebagai kota penangkal rhating tapi sebuah kota yang bisa mengubah wajah Indonesia. Pemiik televisi kali ini tak hanya akan menerima berita dari Makassar kemudian menyiarkan. Tapi pemilik televisi akan melibatkan secara langsung orang-orang Makassar untuk menyampaikan sendiri berita mengenai Makassar atau Indonesia timur. Kebijakan redaksi tentang liputan Makassar tidak lagi diatur oleh produser-produser di Jakarta seperti yang terjadi selama ini. Policy berita-sepenuhnya menjadi tanggungjawab Makassar. Sehingga arah dan akan dikemanakan Makassar benar-benar tergantung kebijakan di Makassar pada media yang bersangkutan. Salah satu contoh yang sangat miris selama ini adalah ketika terjadi bencana di Indonesia timur. Slot waktu yang disiapkan oleh pusat sangat sedikit ketimbang slot yang disiapkan ketika terjadi bencana di Pulau Jawa dan Sumatra. Ada sebuah ketimpangan informasi yang terpampang di depan mata. Dan saya sebagai pekerja di televisi seringkali memprotes kebijakan tersebut. Tapi kalau berita tentang kebrutalan maka sangat cepat berita tersebut ditayangkan oleh elektronik nasional. Bahkan menjadi sebuah kuping program atau bunner program berita. Berbeda jika liputan tentang kerusakan jalan, kesedihan, berita tentang butuh bantuan maka yang menjadi prioritas adalah liputan di Pulau Jawa dan Sumatra. Alasan semata-mata adalah persoalan rhating dan share yang dikeluarkan oleh AC Nielsen. Memang persentasi rathing yang dikeluarkan oleh AC Nielsen menempatkan Makassar naik menjadi 2 persen yang dulu hanya nol koma sekian persen. AC Nielsen merupakan lembaga riset media yang mengukur standard khalayak penonton media di dunia. Pelaksanaan metodologi mengacu Panduan Global Pengukuran Khalayak Televisi (Global Guidelines for TV Audience Meausurement), yaitu prosedur standar pengukuran rating Nielsen di dunia. Pengukuran dilakukan di sepuluh kota besar, yaitu Jakarta dan sekitarnya ( Bogor, Tangerang, Bekasi), Bandung , Semarang , Yogyakarta, Surabaya (dan Gerbangkertasila), Denpasar, Makasar, Medan , Palembang , dan Banjarmasin . Penyebaran sampel tidak sama di setiap kota, yaitu Jakarta 55 persen, Surabaya 20 persen, Bandung 5 persen, Yogyakarta 5 persen, Medan 4 persen, Semarang 3 persen, Palembang 3 persen, Makassar 2 persen, Denpasar 2 persen, dan Banjarmasin 1 persen. Angka ini proporsional berdasarkan populasi kepemilikan televsisi di tiap-tiap kota itu. Dari sepuluh kota rhating tersebut Makassar memang nilai rhatingnya atau sharenya hanya dua point. Tapi dari letak geoografis, perkembangan politik dan ekonomi maka Makassar akan menjadi sejajar dengan DKI Jakarta, Bandung, dan Surabaya . Begitulah salah satu barometer pemilik televise sehingga dalam waktu dekat ini membentuk biro atau tivi berjaringan di Makassar. Tiga tahun lalu, Metro Tivi telah membuka biro news di Makassar di susul Trans Tv awal tahun 2007. Bulan Februari lalu resmi pula terbentuk biro Tivione, eks lativi. Pertengahan tahun 2008 ini, RCTI melalui group MNC juga akan resmi sebagai biro RCTI atau MNC. Biro ini akan membawahi tiga televisi TPI, Global dan satu lagi SNT. Kemudian bakal menyusul SCTV dan Indosiar. Dalam aturan KPI, televisi berjaringan ini nantinya akan menyiapkan 40 persen siaran lokal. Walaupun agak sulit dipenuhi namun setidaknya kebijakan pemilik televisi membentuk biro di Makassar sudah menjadi sebuah kemajuan yang cukup pesat di bidang pertelevisian. Jadi, bersiap-siaplah saluran khusus Makassar akan menjadi berita di setiap televisi nasional yang telah berjaringhagan tersebut. Anda akan menambah sejumlah saluran televise di tombol remote control televise karena kehadiran tivi berjaringan itu praktis menambah saluran local di kota ini. Makassar akan menjadi Jakarta kedua, di mana kita bisa menyaksikan berita apapun akan tayang di televisi tersebut lalu disaksikan oleh orang-orang di Indonesia timur meliputi sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Kalau selama ini di Jakarta dan pulau Jawa lainnya-berita tentang jalan yang rusak saja tayang di tivi nasional lalu disaksikan secara nasional maka akan seperti itu pulalah kebijakan pemberitaan nantinya di tivi berjaringan tersebut. Jangan heran jika suatu saat di Kota Makasar ini akan bersileweran merk-merk televisi di setiap mobil operasional mereka, camaremen akan bertebaran di sudut-sudut kota karena seperti itulah kebijakan biro sebuah televisi. Tak ada lagi yang sulit disembunyikan menanti lahirnya televisi berjaringan di Kota Makassar. Pertengkaran antarkeluarga, RT hingga kebijakan publik akan tersiar langsung melalui televisi. Dan bukan hanya satu televisi yang akan menyiarkan tapi semua televisi yang membentuk biro di kota ini akan menyiarkan peristiwa dan kebijakan tersebut. Peristiwa di Makassar yang dulu porsinya hanya satu segment atau nol koma sekian persen dalam program televisi nasional maka kehadiran biro akan mengubah segalanya. Bahkan, dua hingag tiga segment pun akan menjadi milik Makassar. Pentingnya kehadiran televisi nasional menyiar di Makassar ini setidaknya akan memberikan nuansa dan warna tersendiri bagi dinamika kota Makassar. Karena bukan hanya berita spot yang akan menjadi santapan tivi-tivi berjaringan tersebut tapi produser-produser akan membentuk program yang mengangkat cerita dan khas Sulawesi-Selatan termasuk Makassar. Jadi, bersiaplah menerima berbagai tayangan tentang Sulawesi Selatan melalui puluhan layer kaca. Bahkan kalau Anda punya air mata-maka televisi punya layar kaca yang siap menampung air mata Anda. |
-- Tribun Timur, Surat Kabar Terbesar di Makassar http://www.tribun-timur.comFORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR tribun.freeforums.orgUsefull Links: http://jurnalisme-makassar.blogspot.comhttp://jurnalisme-tv.blogspot.com http://jurnalisme-radio.blogspot.comhttp://jurnalisme-blog.blogspot.comhttp://makassar-updating.blogspot.com http://makassar-bugis.blogspot.com
Sumber: Tribun Timur, Makassar | Rabu, 06-08-2008 | Cakrawala TV Bersaing dengan Sun TV |  | Makassar, Tribun - Sebuah televisi lokal bernama Cakrawala TV bakal beroperasi di Makassar. Proposal pengajuan operasi televisi itu sedang diajukan PT Citra Abadi Televisindo ke Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulawesi Selatan. Proposal ini sudah berada di tangan KPID sejak awal Januari lalu. Bertempat di Hotel Sahid, Jl Ratulangi, Makassar, KPID Sulsel menggelar evaluasi dengar pendapat (EDP), Selasa (5/8), mengenai proposal Cakrawala TV. | PT Citra Abadi Televisindo merupakan perusahaan asal Jakarta namun memilih Makassar sebagai wilayah strategis untuk mendirikan stasiun televisi berbasis lokal. Televisi ini bersaing untuk mendapatkan kanal (channel) dari empat yang disediakan KPID. Ketua KPID Sulsel, Aswar Hasan mengatakan, tiga kanal televisi sudah dipakai TVRI, Makassar TV, dan Fajar TV. "Jadi Cakrawala TV akan bersaing dengan Sun TV untuk memperebutkan satu kanal yang belum terisi itu," ujarnya. Aswar menambahkan, kehadiran Cakrawala TV akan menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat. "Kehadiran televisi lokal baru di Makassar bukan masalah. Masyarakat akan diuntungkan karena bisa memilih program yang menarik baginya. Selain itu, akan membuka peluang bagi jurnalis- jurnalis televisi Makassar," ujarnya. Namun, keputusan kelayakan penyiarannya baru akan dilihat September mendatang. Acara dengar pendapat dihadiri sekitar 30 orang dari akademisi, jurnalis, dan tokoh masyarakat. Dalam pendapatnya akdemisi dari Unhas mengatakan ada semacam kekhawatiran tentang Cakrawala TV ke depan. Di akhir acara, Programing Cakrawala TV, Alex Praditnya, mengatakan komitmennya menyajikan konten budaya lokal dan memberikan kesejahteraan bagi karyawannya di atas upah minimum regional (UMR). |
-- Tribun Timur, Surat Kabar Terbesar di Makassar http://www.tribun-timur.comFORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR tribun.freeforums.orgUsefull Links: http://jurnalisme-makassar.blogspot.comhttp://jurnalisme-tv.blogspot.com http://jurnalisme-radio.blogspot.comhttp://jurnalisme-blog.blogspot.comhttp://makassar-updating.blogspot.com http://makassar-bugis.blogspot.com
Dear Madam/Sir, In order to have your company registered in the World Business Directory for 2008/2009, please print, complete and return the enclosed form (PDF file) to the following address: World Business Directory Suite 149 - Rosden House - 372 Old Street Ec1v 9au / London - United Kingdom Updating is free of charge! To unsubscribe, please send an email to unsubscribe@world-businessdirectory.com
Sumber: Tribun Timur, Makassar | Senin, 28-07-2008 | | MAN II Juara Umum Karya Ilmiah Remaja |  | Makassar, Tribun - MAN II Makassar berhasil merebut juara umum lomba karya ilmiah remaja (KIR) tingkat SMA se-Kota Makassar tahun 2008, Minggu (27/7), setelah berhasil menyisihkan 15 sekolah di babak final yang bersaing dalam lomba yang digelar lembaga bimbingan belajar JILC. MAN II Makassar berhasil merebut juara satu bidang IPS atas nama Maratul Muhasabah, juara dua atas nama Eno Amaliah , dan juara tiga atas nama Muhammad Idham. | Ketua pelaksana Didin, Minggu (27/7), mengatakan, MAN II tampil cukup dominan dalam kompetisi KIR JILC se-Makassar pada 2008. Mereka berhasil mengikutsertakan 15 finalis di tingkat IPA dan 19 finalis di tingkat IPS. "MAN tampil mendominasi lomba ini. Mereka berhasil menyisihkan 200-an finalis lainnya yang lolos dalam tahap akhir. Total peserta lomba ini mencapai 5.000 orang," kata Didin. Sebelum masuk ke babak final, peserta mengkuti seleksi KIR di sekolah masing-masing baik semifinal di JILC cabang dan kemudian babak final di JILC Cendrawasih Makassar. "MAN memang layak menjadi juara karena sangat siap," kata Didin. Poin MAN II sangat tinggi di tiga sesi pertandingan yakni babak uji kemampuan dasar, uji kecepatan, serta uji analisa soal sehingga panitia tidak ragu menetapkannya sebagai juara umum. Tentor Biologi JILC ini menjelaskan, pemenang KIR di kelompok IPA adalah Muh Firmansyah (SMA Athirah), Muh Nafly (SMA 17), dan Muh Idham Iccang (SMA 6). Sedangkan di kelompok IPS yang juara satu adalah Maratul Musabah (MAN II), Nugrawati (SMA Nasional) dan Eno Amalaiah (MAN II). SMA 17 Juarai Try Out LEMBAGA bimbingan belajar JILC juga menyelenggarakan try out SMP-SMA se-Makassar, Maros, Gowa, Minggu (27/7), di Balai Jenderal M Jusuf. Kegiatan ini diikuti 1.500 peserta. Peserta berasal dari 14 SMA dan 14 SMP. Tampil sebagai juara pertama tingkat SMA untuk kelompok IPA adalah Cindy, Isti, dan Irda. Ketiganya siswa SMA Negeri 17 Makassar. Pemenang tingkat IPS adalah Bonafisius (SMK Cendrawasih), Cakra dan Idri Iswardani (SMA 2 Makassar). "JILC akan selalu membuat berbagai kegiatan akademik untuk mengembangkan nalar siswa dan menantang mereka untuk berani berkompetisi di bidang ilmu pengetahuan," kata Direktur Marketing JILC M Ikhsan. |
-- Tribun Timur, Surat Kabar Terbesar di Makassar http://www.tribun-timur.comFORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR tribun.freeforums.orgUsefull Links: http://jurnalisme-makassar.blogspot.comhttp://jurnalisme-tv.blogspot.com http://jurnalisme-radio.blogspot.comhttp://jurnalisme-blog.blogspot.comhttp://makassar-updating.blogspot.com http://makassar-bugis.blogspot.com
Beberapa berita Tribun Timur, Makassar, tentang blog dan aktivitas blog. | Sabtu, 29-09-2007 | | Blogger RI Kalahkan Jepang dan Taiwan | Menyambut Pesta Blogger 2007 di Jakarta | KALAU biasanya setiap tahun majalah Time memilih sosok tertentu sebagai Man of the Year, makan pada 2007 justru tidak ada tokoh dunia yang dipilih sebagai Man of the Year 2006. Apa yang tejadi? Time memilih masyarakat yang disimbolkan dengan kata "You (Anda)" sebagai sebagai Man of the Year. | Alasannya, pada 2006 orang dapat dengan mudah mengekpresikan dirinya sendiri, baik dalam bentuk opini, unek-unek, maupun buah pikiran, dan lain, di internet setelah munculnya web 2.0. Berbagai blog alias situs pribadi di internet bermunculan bak cendawan di musin hujan. Di Myanmar yang sedang bergolak misalnya. Sebelum ribut-ribut antara pemerintah junta militer melawan kekuatan rakyat yang dipelopori para biksu, terjadi aksi penyerbuan terhadap sebuah biara. Para biksu yang melakukan aksi mogok menentang kebijakan kenaikan harga BBM, dibantai oleh junta militer. Media lokal setempat ketakutan memberitakan tindakan anarkis yang dilakukan negara. Apa yang terjadi? Rupanya rakyat telah melek tekhnologi. Tindakan sewenang-wenang militer yang dibadaikan melalui kamera telepon selular (ponsel) disebar melalui blog-blog. Masyarakat dunia internasional akhirnya mengetahuinya. Mereka marah dan mengecam tindakan brutal tersebut. Di Indonesia, blog telah menjadi fenomena dan tengah membangun sebuah kultur baru dalam dunia informasi. Blog memang tak lagi menjadi milik segelintir orang yang memang mengerti bahasa pemograman komputer. Blog telah menjadi milik semua orang, di Indonesia diperkirakan ada lebih dari 130 ribu weblog yang dibikin orang Indonesia. Kondisi inilah yang menarik beberapa penggiat blog Indonesia untuk mencoba mengumpulkan para blogger se-Indonesia dalam satu forum besar bernama Pesta Blogger 2007, Suara Baru Indonesia, yang akan digelar 27 Oktober mendatang. *** BLOG yang merupakan kependekan dari weblog atau personal website, kini menjadi sebuah bentuk mainan baru di era informasi digital saat ini. Namun dalam perkembangannya, blog bisa dibilang tidak lagi menjadi mainan bagi kelompok-kelompok tertentu. Blog telah tumbuh menjadi kekuatan tersendiri dengan ciri khasnya yang membedakan mereka dengan media konvensional lainnya. Majalah Time bahkan menetapkan para penggiat blog ini sebagai Man of The Year 2006. Time menyebutkan tahun 2006 memang memunculkan banyak cerita, namun ada sebuah cerita lain yang tak kalah besar meskipun bukanlah sebuah konflik atau yang melibatkan tokoh besar dunia. Tahun 2006 adalah sebuah cerita mengenai komunitas yang berkolaborasi dalam sebuah skala besar yang tak pernah muncul sebelumnya. Sebuah komunitas yang tergabung dalam sebuah alat yang bernama World Wide Web. Tentu saja web di sini bukan sebuah web seperti milik Tim Berners-Lee yang berkembang pada 15 tahun lalu, bahkan tidak sama dengan hype dotcom web yang berkembang diakhir 90 an. Ini sebuah software versi baru yang disebut web 2.0 yang oleh Time disebut penggerak baru dalam revolusi informasi digital. Wartawan senior Kompas Ninok Leksono mengatakan, ke depan tidak menutup kemungkinan akan terjadi pergeseran di dunia jurnalistik --citizen journalism. Artinya, justru mereka yang menjadi reporter adalah masyarakat sendiri. "Begitu juga gaya penulisannya. Mereka tak lagi mengindahkan kaidah-kaidah jurnalistik, termasuk menyangkut ejaan dan lain-lain," ungkap Ninok kepada Persda Network. Sebuah web di Singapura, sudah berhasil mengembangkan citizen journalism. Hampir setiap hari masyarakat melaporkan kepada pengelola blog lengkap dengan data teks, audio, bahkan video atas terjadinya sebuah peristiwa. Pihak pengelola tinggal melakukan pengecekan ulang. Setelah diyakini informasi itu akurat, maka data atau laporan dari masyarakat segera ditayangkan ke web. Blog bentuknya macam-macam. Dari sebuah diari elektronik termasuk foto dan video personal, opini atau artikel, hingga sebuah blog pemasaran atau promosi dari sebuah perusahaan. "Blog memang sudah menjadi rupa baru dalam dunia informasi. Dan komunitas blog baru saja lahir dan sedang akan berkembang" terang Enda Nasution, Ketua Komite Pesta Blogger 2007 dalam perbincangannya dengan Persda Network, Kamis pekan ini.. Menyadari komunitas blog di Indonesia yang semakin menggeliat, konsultan kehumasan Maverick dan Bubu Internet, dalam waktu dekat mengagas sebuah acara kumpul-kumpul bloggers berskala nasional. Pesta Blogger bertema Suara Baru Indonesia diharapkan menjadi wadah pertemuan dan diskusi bagi para blogger untuk bersama-sama menciptakan iklim ngeblog yang positif di Indonesia. Harapannya, ke depan blog dapat menjadi media ekspresi baru yang mampu menyuarakan pemikiran, pendapat dan perasaan para blogger Indonesia. Acara ini rencananya digelar pada 27 Oktober. Wimar yang telah menjadi blogger senior Indonesia sejak 1996 dengan perspektif.net mengatakan, perkembangan blog menjadi sebuah media informasi baru yang diperhitungkan karena sifatnya yang berbeda dengan media konvensional. Wimar menyebut blog itu otonom dan independen. Jadi sangat ideal bagi semua orang untuk menampilkan gagasannya atau pengalaman pribadinya Melalui blog juga tercipta citizen journalism, dimana setiap orang bebas berpendapat. Dalam Pesta Blogger 2007 nanti, akan dilibatkan blogger terkemuka di bidangnya masing-masing. Dari 200 bloggers yang hadir dalam acara tersebut, 100 bloggers diundang khusus oleh Komite Pesta Blogger 2007, sementara 100 tempat berikutnya akan diberikan kepada para bloggers yang mendaftarkan diri lewat situs resmi http://pestablogger.com/ dengan sistem first come first serve. Indonesia Tertinggi Edelman, sebuah lembaga kehumasan global Kamis (29/9) kemarin merilis data hasil risetnya terhadap tren blog di banyak negara. Hasilnya, Edelman mencatat, pertumbuhan weblog di Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia. Di regional Asia, pertumbuhan weblog bahkan diatas rata-rata pertumbuhan regional. Alan VanderMolen, Presiden Edelman Asia Pasifik, dalam paparannya pada acara diskusi terbatas dengan beberapa media di Hotel Mulia, Jakarta, menyebutkan, dari 1.050 responden Asia-Pasifik yang diwawancarai melalui metode tatap muka menyatakan, 32 persen responden di Indonesia menyatakan, sudah atau pernah membuat blog. Angka ini melebihi data yang diberikan responden di Taiwan yang hanya mencapai 30 persen pernah atau telah membuat blog. Sementara, Jepang hanya 25 persen responden, Hongkong 22 responden dan Singapura hanya 18 responden. Angka tertinggi diberikan responden di Cina (48 persen), disusul Malaysia (40 persen), dan Korea ( 38), serta India (33). (Persda Network/why/bec) |
| Minggu, 09-03-2008 | | Blog Bisa Bikin Jutawan |  | BANYAK yang tidak tahu dengan menulis di blog, seseorang bisa menjadi jutawan. Karena selama ini mereka berpikir, menulis blog hanya buang-buang waktu dan tidak menghasilkan apa-apa kecuali pamer tulisan di internet. Pendapat ini dibantah pengasuh sejumlah blog sekaligus kontributor tetap di CNet Asia, Budi Putra. | Pria kelahiran Payakumbuh (Sumbar), 12 September 1972, ini malah makin meroket ketika ia memutuskan menjadi penulis independen dan sebagai penulis penuh waktu (full-time blogger) dengan meninggalkan profesi sebelumnya yang lumayan mapan sebagai jurnalis di Koran Tempo dan Content Manager di TempoInteraktif. Blog milik Budi dengan nama budiputra.com, termasuk blog yang paling banyak dikunjungi orang. Pengiklan pun antre memasang iklan di blog budiputra.com. Tentu saja pendapatan iklan membuat Budi bisa meraup uang yang tidak sedikit. Blog sebenarnya merupakan salah satu bentuk ekspresi personal seseorang yang berbentuk tulisan media internet. Ini yang membuat blog menjadi dunia yang menarik, karena setiap orang bisa berbagi kepada orang lain secara instan dan cepat tanpa ada halangan melalui tulisan. Waktu yang ada pun juga fleksibel. Berada di mana pun bisa menjadi tulisan. Jika hal itu diseriusi, maka akan mendatangkan banyak uang. Pasalnya, para penulis blog (blogger) sudah memiliki banyak pembaca dan pembaca merupakan awal dari tertariknya pengiklan. Ibaratnya semakin banyak pembaca, semakin tertarik perusahaan beriklan tentang layanannya. Sekarang ini banyak blog yang sudah menjadi publikasi yang serius, di luar Indonesia misalnya, blog teknologi dan bisnis justru menjadi rujukan. Berita eksklusif muncul dari situ, sedangkan jurnal sebuah media justru tidak. Ini membuktikan betapa seorang blogger memiliki banyak link ke berbagai kalangan. Hal ini bisa membuat media cetak dan media mainstream bisa dikalahkan oleh blogger. Ketika seorang blogger mulai spesifik dan fokus pada tulisannya, misal spesifik menulis tentang teknologi untuk satu blog atau musik untuk blog lainnya, maka blog yang seperti ini akan mendatangkan iklan, yang pada akhirnya menguntungkan bagi dirinya. Pendapatan seorang blogger menurut Budi, sangat tinggi mencapai puluhan juta. Blogger di luar Indonesia penghasilannya mencapai rata-rata 3.000-4.000 dolar AS, atau setara Rp 36 juta. Sedangkan di Indonesia yang sumber pendapatannya dari iklan bisa mencapai 1.500 dolar AS sebulan, malah bisa mendapat Rp 30-40 juta. Biasa Menulis Blog dalam pandangan Budi merupakan dunia yang menarik karena bisa menjadi dunia ekspresi para penulis baru atau yang ahli di bidangnya. Karena itu pula seorang penulis blog yang baik harus rajin membaca dan mau berbagi apa saja kepada pembacanya. Syarat lainnya adalah penulis blog harus terbiasa menulis. "Kalau tidak suka menulis maka sulit menjadi blogger," terang pria yang selalu menjadi narasumber pada beberapa acara dialog di televisi mengenai dunia blog. Agar tingkat pembaca blog lebih luas dan tidak hanya sebatas teman, Budi menyarankan, agar tulisan di blog merupakan topik yang spesifik. Dengan demikian, blog seseorang bisa menjadi sumber bacaan alternatif. mengapa harus spesifik, karena pengiklan tidak mau media yang gado-gado. Misalnya topik perkembangan ponsel, maka pengiklan ponsel pasti berminat memasang di blog tersebut. Agar blog dapat dikenal orang, promosi juga harus dilakukan, bisa melalui teman, situs friendster, SMS, media blog orang lain, dan beberapa cara lainnya. |
| Kamis, 27-03-2008 | | Telkom Gelar Lomba Menulis Blog |  | Makassar, Tribun - PT Telkom Kandatel Makassar menggelar lomba membuat dan menulis blog bertema Untukmu Guruku. Puluhan guru diceramahi dalam soalisasi soal lomba ini di Phinisi Restaurant, Hotel Pantai Gapura, Makassar, Rabu (26/3). Manager Sales Data dan Value Added Service (VAS) PT Telkom Kandatel Makassar, Linson PS, mengatakan, kegiatan terdiri atas dua kategori; siswa SD-SMP dan siswa SMU- mahasiswa. | Pemenang pertama setiap kategori akan mendapatkan hadiah masing-masing Rp 3 juta dan Rp 4 juta plus tour ke Jakarta bersama guru/dosennya. Hadiah lainnya adalah satu unit komputer untuk sekolah. Dijelaskan, membuat blog mempunyai kemiripan dengan membuat email. Jadi, memasukkan identitas diri dan nama blog yang akan dibuat. "Jika Bapak/Ibu masih belum tahu, kami siap mendatangi sekolah untuk diajari membuat blog," katanya. Lomba blog ditujukan untuk murid sekolah dasar, SMP, SMA, dan mahasiswa dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional 2 Mei dan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2008. Untuk mengikuti lomba, peserta mempunyai email di www.plasa.com dan www.telkom.net, mempunyai blog pribadi di http://blog2.plasa.com. Menulis karangan satu hingga dua halaman kuarto di blog pribadi dengan tema Untukmu Guruku yang mengisahkan kesan tentang guru. Tulisan yang dibuat didaftarkan dengan mengisi menu cooment di http://untukmu guruku.blo2.plasa.com atau cetak data account sebagai anggota www.plasa.com dan tulisan di blog pribadi http://blog2.plasa.com lalu kirim ke panitia. Faktor penilaiannya adalah originalitas ide, gaya bahasa, dan tata bahasa. Masa lomba 25 Maret sampai 25 April 2008 dengan target peserta 1.000 orang. Setiap guru ditarget dapat menyertakan 100 siswa dalam lomba. |
| Jumat, 08-02-2008 | 14:51:55 | | Ditolak Capello, Beckham Curhat Lewat Blog | Laporan: Widyabuana. tribuntimurcom@yahoo.com | Bukan hanya masyarakat biasa yang bisa curhat lewat blog. Pesepakbola sekelas David Beckham pun melakukannya. Dalam entri posting hari Kamis lalu, pemain berusia 32 tahun ini mengatakan sangat menghargai keputusan dari pelatih timnas Inggris, Fabio Capello, yang tidak memasukkannya ke dalam jajaran tim line-up timnas The Three Lions. Demikian dilansir AP. | Padahal, seandainya Capello memasukkannya ke dalam timnas Inggris maka ia akan mencatatkan rekor sebagai salah satu pemain Inggris yang bisa bermain membela timnas sebanyak 100 kali. Capello tak memasukkannya dalam tim karena Beckham tidak lagi bermain secara regular sejak November, tahun lalu. "Saya yakin, semua telah membaca bahwa Capello tidak memasukkan saya ke dalam skuad. Namun, saya mengatakan bahwa saya tetap mengaguminya sebagai seorang pelatih dan saya menghargai keputusannya," kata Beckham yang kini berlabuh di LA Galaxy, Los Angeles, AS. "Dalam penjelasannya, ia mengatakan bahwa sangat tidak adil jika memasukkan saya ke dalam skuad sementara saya tidak pernah bermain. Padahal, banyak pemain lain yang berkompetisi setiap pekan," kata Beckham yang menyiapkan diri dalam musim liburan kompetisi sepakbola AS untuk berlatih di pusat pelatihan Arsenal. (*) | | Senin, 07-07-2008 | | Mahathir Mohamad: Anwar Sukses Jelekkan Nama Saya |  | Kuala Lumpur, Tribun - Perseteruan Mahathir Mohamad dengan Anwar Ibrahim masih berlanjut sampai ke masa pensiunnya. Mahathir bilang Anwar berhasil menjelekkan nama baiknya. "Sebagian orang bilang apa yang telah terjadi biarkan terjadi. Sebagai Muslim yang baik, kita harus melupakan dan memaafkan. Itu mudah dikatakan jika Anda bukan sasaran kelicikan dan dendam Anwar," kata Mahathir dalam blog pribadinya, www.chedet.com, yang ditulis 5 Juli 2008. | "Anwar telah berhasil menjelekkan nama saya di Amerika Serikat dan Eropa, bahkan juga di negara-negara Muslim. Mereka semua berpikir bahwa saya yang memenjarakannya untuk alasan politik," kata Mahathir. Padahal, lanjut Mahathir, Anwar telah memperjuangkan dirinya dengan mengerahkan sembilan pengacara. Anwar tak menceritakan bagaimana hakim menulis putusan 360 halaman. Dan bandingnya ditolak dua kali. Mahathir menyebutkan, Anwar menggugatnya 100 juta ringgit Malaysia atas tuduhan sodomi itu. Anwar juga berhasil membuat pengacara Mahathir, VK Linggam, kehilangan kredibilitas. "Sekarang saya tak punya pengacara membela saya di pengadilan padahal gugatan masih berlangsung. Tak ada kepastian bahwa argumen-argumen hukum hakim tak berakhir pada saya bersalah mempublikasikan dia bersalah karena sodomi meskipun itu benar," kata Mahathir. Anwar juga berhasil menjelekkan nama Mahathir dalam kasus rekaman telepon Linggam. Dalam rekaman itu, terdengar suara Linggam yang mengatur pengangkatan hakim agung. "Sekarang Komisi Kerajaaan telah menyebut saya sebagai seseorang yang harus diselidiki meski saya tak ada hubungannya dengan Linggam dan aktivitasnya. Padahal saya hanya tahu Linggam karena dia berhasil dalam sejumlah kasus, lalu saya memilihnya sebagai pengacara saya dalam kasus melawan Anwar," kata Mahathir. "Badan Pemberantasan Korupsi juga telah menginterogasi saya selama tiga jam. Saya yakin saya akan ditanya pula di pengadilan karena kemungkinan saya melobi dalam penunjukan hakim," tambah Mahathir. "Namun sejauh ini, mereka tidak menemukan apapun. Sekarang mereka menemukan cara tak langsung menyerang saya," kata Mahathir. Menurut Mahathir, Anwar memusatkan serangannya pada Wakil PM Dato Seri Najib Razak. Seperti biasa, Anwar selalu memiliki orang lain yang menyerang Najib. "Sepertinya tak ada koneksi antara siasatnya melawan saya dan Najib, namun jika dilihat pada siapa yang diuntungkan, kita akan mengerti koneksinya," jelas Mahathir. Isu Sodomi Cara Anwar Cari Simpati MANTAN Perdana Menteri Mahathir Mohamad menuduh isu sodomi jilid II merupakan taktik Anwar Ibrahim. Tujuannya jelas, agar Anwar meraih simpati publik. Dalam blog pribadinya, www.chedet.com, Mahathir mengaku terkejut dengan kasus sodomi ini. Mahathir menilai, pemuda yang mengaku disodomi disuruh sendiri oleh Anwar. "Kononnya Anwar sengaja menyuruh Saiful (Mohd Saiful Bukhari Azlan) buat laporan dia diliwath (disodomi) oleh bosnya supaya Anwar bisa cari perlindungan dari percobaan membunuhnya. Dengan itu, konon orang ramai akan bersimpati dengannya," kata Mahathir yang menulis blog itu tertanggal 4 Juli 2008. Sikap skeptis Mahathir ditambah pula dengan kisah Saiful yang disuruh mertuanya mengantar paspor ke Anwar Ibrahim. Sang mertua merupakan orang yang terlibat proses pembebasan Anwar. "Jelas pemuda yang disuruh oleh bapak mertuanya mengantar paspor kepada Anwar, yang amat gembira dengan pembebasan Anwar dan dipercayai terlibat dengan usaha membebaskan Anwar, masih kuat kepercayaannya kepada Anwar dan mencoba menolak tuduhan terhadapnya," kata Mahathir. Ia berkomentar di blog ini keluar setelah banyak yang ingin mewawancarainya. Mahathir merupakan perdana menteri yang mendepak Anwar dari kursi wakil perdana menteri lalu menuduhnya telah melakukan sodomi pada pertengahan 1990-an lalu. | | Sabtu, 24-05-2008 | | Aco dan Anto Kampanye di Dunia Maya |  | Makassar, Tribun - Balon Wali Kota Makassar mulai berkampanye di dunia maya. Ini dilakukan untuk menarik simpatik pemilih yang akrab dengan dunia ini. Ilham Arief Sirajuddin dan Iriantosyah Kasim DM, adalah dua balon yang telah nampang di sejumlah webisite dan blog. Ilham hadir di sejumlah situs seperti www.ilhamfansclub.multiply.com, aco-relawan99.blogspot, www.ias-2008.com, http://www.ias.web.id, www.aco.web.id, dan sebagainya. Humas IASmo, Sugali, Kamis (22/5), mengakui pihaknya membuat beberapa situs di dunia maya. Namun banyak juga yang dibuat sendiri oleh relawan IASmo. "Sebenarnya banyak relawan yang buka blog, tapi kita baru akan mendata," katanya. | Isi situs umumnya berita yang membuat kegiatan IASmo serta kuis. Di www.ias-2008.com, misalnya, pengunjung bisa mendapatkan suvenir seperti gelas, stiker, kaos, stiker, dll, jika berhasil menebak pertanyaan. Kandidat wali kota lainnya, Iriantosyah Kasim juga mempunyai situs dan alamat di dalam komputer. Misalnya www.iriantosyahkasim.multiply.com. Situs ini berisi foto Anto dan seabrek kegiatannya bersama suporter PSM Makassar, Maczman. Anto juga terlihat menjalin komunikasi dengan pendukungnya dalam buku tamu. Kandidat lainnya sampai saat ini belum ditemukan situsnya. Dede Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Barat, mengakui, kampanye di dunai maya sangat efektif. Saat kampanye Dede bisa ditemui di Youtube dan sejumlah situs. |
-- Tribun Timur, Surat Kabar Terbesar di Makassar http://www.tribun-timur.comFORUM DISKUSI PEMBACA TRIBUN TIMUR tribun.freeforums.org Usefull Links: http://jurnalisme-makassar.blogspot.comhttp://jurnalisme-tv.blogspot.comhttp://jurnalisme-radio.blogspot.com http://jurnalisme-blog.blogspot.comhttp://makassar-updating.blogspot.comhttp://makassar-bugis.blogspot.com
Tentang jurnalisme dan jurnalistik, bisa dilihat pula pada dahlandahi.blogspot.com---------- Forwarded message ---------- From: Poynter Institute < newsletters@poynter.org> Date: Tue, Jul 22, 2008 at 5:00 AM Subject: Writing Tools - From Rim Editor to Ram the Editor To: febricfitriansyah@gmail.com | ![]()
| | | ![]()
| ![]()
| More Writing Tools Unsubscribe from Writing Tools
Poynteronline Writing Tools MONDAY, JULY 21, 2008 From Rim Editor to Ram the Editor I'm feeling more than a bit xenophobic these days, and I'm blaming it on the movement to outsource newspaper copy editing services to India. I was interviewed on this topic recently for a public radio program in New York City called "The Takeaway" with John Hockenberry and Adaora Udoji. The conversation featured a 26-year-old American copy editor, Hayden Simms, whose bright eyes and bushy tail could not protect him from a Miami Herald pink slip. The premise of the program was that Simms lost his copy editing job to India and its pool of cheaper labor. | RELATED | "Stakes, Expectations Rise As Copy Desks Shrink," by Mallary Jean Tenore "Destined for the Spike: Sub-Editors Will Struggle to Survive in Digital Age," by Roy Greenslade, The London Evening Standard "In Changing World of News, an Elegy for Copy Editors," by Lawrence Downes, The New York Times
"Yanks Thump Sox: Prime Rate to Remain Stable, Bernanke Says," by Gene Weinman, The Washington Post "Orlando Sentinel Sees Corrections Rise at 'Frightening Pace; the Quality Revolution," by Manning Pynn, the Orlando Sentinel Offshoring: Coming Trend for Copy Editors? by Joe Grimm, Poynter Online
"From Art to Editing?" by Joe Grimm, Poynter Online "Poynter, Knight Launch Online Training Portal," by Joe Grimm, Poynter Online
"Copy Editors: The Missing Link in the Online Newsroom," by Leann Frola, Poynter Online "Tighter Budgets Slashing Internships," by Leann Frola, Poynter Online | | On the line with me was Harsh Dutta, a gracious and highly intelligent man from India and co-founder of Content Writing India in New Dehli, which runs a copy editing service for clients across the world, including newspapers in the U.S. of A. Dutta admitted that Indian copy editors were trained in "the Queen's English" and had to be schooled in the peculiarities of the American idiom. I have no doubt that our copy editing colleagues in India have enough language competence to learn the difference between labor and labour and to put the comma inside quotations marks, thank you. Language, syntax, spelling and idioms are all important, but are beside the point. It pains me to say that the bean counters who have proposed this move have added insult to the injury of being laid off. They seemed to have reduced the craft of copy editing to its most basic functions without attention to what will be lost, including cultural literacy, institutional memory and knowledge of the community. My recent radio rant went something like this (I've added a few points for good measure): I need copy editors to know that Eva Longoria is not the wife of Tampa Bay Rays baseball phenom Evan Longoria. I need them to know that a Florida cracker is not something you eat, and that it may or may not be offensive to some readers. I need a Rhode Island copy editor to know that you don't dig for clams; you dig for quahogs, a word of Indian origin -- American Indian. I need copy editors who know that Jim Morrison of The Doors went to St. Pete Junior College, that beat writer Jack Kerouac died in St. Petersburg, Fla., but is buried in Lowell, Mass. I want them to know that Lakewood High School is different from Lakewood Ranch High School. I want them to know that 54th Avenue North in St. Petersburg is 108 blocks north of 54th Avenue South. I'd like to think that I'm a pretty bright guy, but, believe me, Mr. Dutta, you don't want me to copy edit the work of Indian journalists in New Dehli. National origin matters. Community matters. Culture matters. My radio friend from India also recognizes that these things matter, but he assured Mr. Hockenberry that the copy editors from India, working with clients in Houston, are given a "learning module" to help them understand the local traditions. (I hope there will be a pop quiz on Enron, AstroTurf, and Billy "White Shoes" Johnson.) No amount of book or online learning can compensate for wisdom earned on the ground. I need copy editors who are willing to be comrades and collaborative antagonists, who will drink beer with me after their shifts, who love this community as much as I love it, who know you can get great chili dogs at Coney Island and the best barbecue in town at Big Tim's. I need copy editors who are more than comma catchers. I need them to be language masters, the last line of defense, the standard bearers of what my newspaper stands for, my safety net. I want to be able to walk up to a copy editor's desk and say "great catch, thanks for saving my ass." Must I now learn the Hindi word for ass? My friend and colleague Howard Finberg, who once worked as a newspaper copy editor, has told me he views the erosion of the copy desk as a more troubling development than the loss of reporters and the retreat from some traditional beats. I think he's right. When it comes to the outsourcing of this crucial journalistic function, at a time when we say we want the news to be even more local, let's take our stand -- at the border's edge. Posted at 2:34:42 PM E-mail this item | Add Your Comments | QuickLink this item: A146501 WEDNESDAY, JULY 16, 2008 Proof That Remnick Is Wrong In a world awash in random irony and snarky cynicism, it is wise to consider the healing words of David Remnick, editor of The New Yorker. Defending satire and his choice of cover art, Remnick told National Public Radio that he disagreed with those critics who thought that rank and file Americans would not get the humor in the cover. Yes, the Obamas are pictured as terrorists with a flaming American flag and photo of Bin Laden in the background. But the magazine does not mean that the Obamas are really terrorists. The artist and editor mean the opposite. Remnick objected to the notion that only sophisticated New Yorkers would get the satire. He expressed the more egalitarian notion that even people in the heartland would get it. But the record of Americans "getting it" is spotty at best. One of the most celebrated cases involves a magazine's publication of a short story by Shirley Jackson called "The Lottery." This chilling little story, which first appeared in 1948, remains a staple of high school literature classes. Its use of foreshadowing and suspense, its tight construction and its cold brevity make it a perfect vehicle for instruction. "The Lottery" tells the story of a small rural community that conducts a yearly ritual. Each summer the townspeople gather in the square and one of them wins the lottery, with lots chosen out of an old black box. The winner? Oh, she gets stoned to death. The story, a fictional critique of the kind of scapegoating carried out by the Nazis a few years earlier, caused quite a stir among readers, a ruckus unprecedented in the history of the magazine, and one that Jackson would write about at length. Her essay called "Biography of a Story" begins this way: "On the morning of June 28, 1948, I walked down to the post office in our little Vermont town to pick up the mail. ... I opened the box, took out a couple of bills and a letter or two, talked to the postmaster for a few minutes, and left, never supposing that it was the last time for months that I was to pick up the mail without an active feeling of panic. ... It was not my first published story, nor my last, but I have been assured over and over that if it had been the only story I ever wrote or published, there would be people who would not forget my name." I won't wait any longer to reveal what you may by now have guessed, that "The Lottery" first appeared in The New Yorker magazine, and that hundreds of nasty letters came to Jackson, including one from her mother, who did not "get" what she was doing. "I have all the letters still," Shirley wrote, "and if they could be considered to give any accurate cross section of the reading public, or the reading public of The New Yorker, or even the reading public of one issue of The New Yorker, I would stop writing now." She goes on, "Judging from these letters, people who read stories are gullible, rude, frequently illiterate, and horribly afraid of being laughed at. ... The New Yorker never published any comment of any kind about the story in the magazine, but did issue one publicity release saying that the story had received more mail than any piece of fiction they had ever published." What follows is a scary sampling of the letters: Kansas: "Will you please tell me the locale and the year of the custom?" Oregon: "Where in heaven's name does there exist such barbarity as described in the story?" New York: "Do such tribunal rituals still exist and if so where?" And on, and on, and on. Ten years before publication of "The Lottery," another fictional story bamboozled an American audience. A 1938 radio broadcast by Orson Welles of "The War of the Worlds," a dramatic narration of an invasion of Earth by Martian monsters, sent listeners into panic and inspired journalist Dorothy Thompson to cite the event as "the story of the century." She wrote in the November 2, 1938 edition of the New York Herald Tribune: "All unwittingly Mr. Orson Welles and the Mercury Theater on the Air have made one of the most fascinating and important demonstrations of all time. They have proved that a few effective voices, accompanied by sound effects, can so convince masses of people of a totally unreasonable, completely fantastic proposition as to create nation-wide panic. "They have demonstrated more potently than any argument ... the appalling dangers and enormous effectiveness of popular and theatrical demagoguery. "They have cast a brilliant and cruel light upon the failure of popular education. "They have shown up the incredible stupidity, lack of nerve and ignorance of thousands. "They have uncovered the primeval fears lying under the thinnest surface of the so-called civilized man. "They have shown that man, when the victim of his own gullibility, turns to the government to protect him against his own errors of judgment. "The newspapers are correct in playing up this story over every other news event in the world. It is the story of the century." In an National Public Radio interview with a group of women supporting John McCain, it was dispiriting to hear people insist that Obama was raised as a Muslim in spite of the cold evidence to the contrary. When those people pass a magazine rack and see the image on The New Yorker cover, Mr. Remnick, they will, I guess, nod approvingly rather than see it as a sophisticated piece of satire. Posted at 8:06:19 PM E-mail this item | Add/View Feedback (12) | QuickLink this item: A146828 TUESDAY, JULY 15, 2008 Numb Nuts: Newspapers Are Stupid I can't imagine what George Carlin is thinking today as he laughs down at us from heaven or up at us from heck. Oh, yeah, I used heck so as not to offend the readers of this Web site, especially the children who might stumble upon this post on their way to Romenesko. I guess old Carlin didn't know that nuts was one of those words you can't say on television or put in a newspaper. Gosh (euphemism for God), if you put nuts in the paper, people, especially young people, might stop reading it. I hope by now you get my drift. I agree wholeheartedly with Howard Kurtz that newspapers should have quoted Jesse Jackson in full when he whispered this about Barack Obama on a Fox open microphone: "See Barack been, um, talking down to black people on this faith based. I wanna cut his nuts off. Barack, he's been talking down to black people." When the controversy broke, I wondered, like most other folks, what Jackson said that was so offensive it could not be printed in the newspaper. In the early reports, I read phrases such as "crude remark" about doing something to Obama, or emasculate, and then finally castrate. Wow, I thought, castrate. I cannot speak for other men, but, to me, castrate is one of the worst words in the English language. It conjures everything from old cruel Italian efforts to preserve angelic voices in choir boys, to suggested punishments for child abusers, to the desires of scorned women like Lorena Bobbitt, to, most horrific, the punishment imposed by some slaveholders against uppity or rebellious slaves. It is in that context that Jackson's remarks are most remarkable: that he would not say that he'd like to knock down that kid a peg or two, or slap that arrogant grin off his face, or even kick his skinny ass to kingdom come. Instead, Jackson chose to appropriate the slaveholder's horrific threat against another black man. In offensive parlance I've learned from my African-American colleagues, it was as if Jackson were a plantation owner accusing Obama of being a "house nigger," a privileged black man who spoke down to other black people. But such argument is impossible UNLESS WE KNOW EXACTLY WHAT JACKSON SAID. I'll take my argument one step forward: By veiling Jackson's actual words, the news media may have created the impression that he said something worse. To say that you'd like to cut someone's nuts off is, among other things, what language experts call a dysphemism, a word or phrase that is harsher than your true meaning and intent. If I'm wrong about that, let's make sure we keep Jackson away from the cutlery. Dysphemisms often convey a sense that the speaker is exaggerating for effect. Castrate is meant to serve as a euphemism for nut cutting, the way the most proper prefer urinate to piss. As in: "That Jesse Jackson must have been really urinated off at Barack Obama to say such a thing." Alas, castrate contains none of the mitigating slang outrageousness of nuts, which means the news media managed to turn a euphemism into a dysphemism, a colossal act of linguistic incompetence. Shame. Posted at 6:07:01 PM E-mail this item | Add/View Feedback (7) | QuickLink this item: A146822 THURSDAY, JULY 10, 2008 Fragging Without Shame I sit at this moment in my doctor's office staring at my cholesterol numbers, and they are not good. Too much pizza and Pepsi, I guess. I look up and notice two pieces of office art: a scale model of the human heart and the head of a giant alligator. The gator looks like he is about to eat the heart. It is not a comforting image for a guy whose cholesterol numbers are 70 points higher than his I.Q. I avert my eyes, which now catch the cover of a recent issue of Time magazine. The headline reads: Why the Pope Loves America U.S. Catholics May Confound Him, but America Doesn't. On the Eve of His Papal Visit, a Look at How This Country Has Shaped Benedict XVI. It occurs to me that the first and last of those sentences are fragments, which means that only the middle one can stand independently as a complete thought: "U.S. Catholics may confound him, but America doesn't." Lots of meaning is packed into one complete sentence and two intentional fragments. The key word is intentional. A college student once told me she liked to use fragments in her writing, but that her composition teacher corrected her every time. "Would you let me use fragments?" she asked. I told her I'd feel better about giving her permission if I knew that she understood the difference between an intentional and unintentional fragment, that is, between a strategy and a mistake. A useful insight about language reveals that some words -- ones that would make a sentence complete -- are understood by the reader or listener, even if those words are missing from the text. If I should yell "Go to hell!" the subject is understood to be "you." But what if I said or wrote, "When hell freezes over!"? That clause has a subject and a verb, but cannot stand alone as a sentence. Yet its clarity and context keep it from being a mistake. The reader provides what is missing from information supplied earlier. "When hell freezes over!" can mean "I'll move to Florida when hell freezes over," or "I'll root for the Red Sox when hell freezes over." So. The intentional fragment. Not a mistake. No siree. More than that: The intentional fragment can carry several important strategic uses in a piece of writing. The Shotgun Blast
A fragment can explode upon the reader's sensibility to bring a shocking truth into sharp relief. Consider this passage from Mark Haddon's novel "A Spot of Bother": He had removed his trousers and was putting on the bottom half of the suit when he noticed a small oval of puffed flesh on his hip, darker than the surrounding skin and flaking slightly. His stomach rose and he was forced to swallow a small amount of vomit which appeared at the back of his mouth. Cancer.
That fragment -- serving as word, sentence, and paragraph -- hits the reader like a shotgun blast. The Rest Period
The fragment can offer relief, usually in the form of a resolution to a problem. Used as a single paragraph, the fragment offers a pause, especially when it follows a long sentence. Here Haddon describes a man waking from a nightmare: He fixed his eyes on the tasseled lampshade above his head and waited for his heart to slow down, like a man pulled from a burning building, still not quite able to believe that he is safe. Six o'clock. He slid out of bed and went downstairs ... The Inventory A series of short fragments helps the writer build a body of evidence for the reader, especially in a form that reads less like a list and more like details from a narrative. Consider this paragraph from an essay by Wright Thompson on the rise and fall of baseball slugger Mark McGwire: Only ghosts remain at McGwire's boyhood home in Claremont, California. Bits and pieces of a former life, things left behind. The pink and white chairs in the living room. The white wraparound couch. The blue wallpaper upstairs. The IntensifierMy friend Jennifer 8. Lee, a former member of Poynter's National Advisory Board, uses few fragments in her entertaining book, "The Fortune Cookie Chronicles." When she does reach for one, it always intensifies the effect she is trying to achieve. In this passage, she describes the search for a certain Chinese restaurant in Omaha, Neb.: I looked up the number online and dialed. A woman picked up.
I started out by introducing myself in Mandarin Chinese.
I received the telephone equivalent of a blank stare.
I switched to basic Cantonese.
More blankness.
I tried English.
The woman cut me off. "We're Korean," she said in a thick accent. Then she hung up.
Notice how that single fragment, "More blankness," helps Lee build the tension toward that delicious punch line. Turn to the back cover and you'll discover that those trying to sell the book understand the intensifying power of the intentional fragment: One woman.
One great mystery.
One consuming obsession.
Forty thousand restaurants.
Striving for Informality
You are unlikely to find many fragments in works of philosophy. That is because the fragment almost always expresses a degree of informality, except, perhaps, in works of poetry or oratory. But even in the most serious works of literature, the fragment is an irreplaceable building block of dialogue. "Why not?" "Because." "Because of the sex?" "Not just that." "Then what?" "Because of your mother." I just made that up, but something tells me I've read a dozen scenes like it in novels or screenplays. The Objective CorrelativeT.S. Eliot argued that the poet is always in search of the object that correlated to a feeling or emotion the poet wants to express, hence the literary jargon: objective correlative. Watch how Jacqui Banaszynski uses the fragment to fulfill this purpose in an article she once wrote about Turkish refugees: Toothpaste. And toothbrushes. Ten of them. One for himself, his wife and each of their eight children. Is that so much to ask? The man who calls himself Ali Ahmet wants to know.
"They are trivial things, but they are important," Ahmet says. "When I was in my home, I cleaned my teeth, and my children cleaned, at least three times a day. Since one month, since I left my home, we have not cleaned. And please, tell the world we have not enough soap." A fragment is a rare way to begin a newspaper story, but in this case the power of that first word toothpaste serves as the physical manifestation of a man's search for dignity for his family. Posted at 6:44:40 PM E-mail this item | Add/View Feedback (2) | QuickLink this item: A146573 Copyright © 1995-2008 The Poynter Institute More Writing Tools Unsubscribe from Writing Tools | ![]()
| ![]()
| ![]() ![New On Poynter]() | | You have received this newsletter because our records indicate you selected it. To stop delivery, go to the Newsletters page on Poynter Online. That link should take you directly to the Newsletters page. If not, you can copy the following link into your browser: http://www.poynter.org/profile/subscribe.asp. You can also change your newsletter selections f |
|
|