Makassar, Sulawesi Selatan

fans' posts with tag: pengguna internet

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag pengguna internet

Blog EntryInovasi Media Sebagai Keharusan Feb 14, '08 6:46 AM
for everyone
http://tribun-timur.com/view.php?id=63935&jenis=Opini

Kamis, 14-02-2008     
Inovasi Media Sebagai Keharusan    
Opini Tribun
     
Oleh: Aswar Hasan, Ketua KPID Sulsel

Pada tahun 1990 Bill Gates meramalkan, 10 tahun lagi (tahun 2000) surat kabar tercetak akan mati. Tetapi setelah sepuluh tahun berselang, pendiri Microsoft tersebut, kembali merevisi prediksinya, kemungkinan sekitar 50 tahun lagi ke depan, ramalannya akan mewujud.
    
Masyarakat akan terbiasa dengan electronic paper dan perlahan tapi pasti surat kabar tercetak akan ditinggalkan.
Sejauh mana realibilitas prediksi Bill Gates tersebut akan terwujud, masih perlu diuji kepastiannya. Paling tidak, prediksi Gates masih perlu dikomprontasikan dengan pandangan teori konvensional yang digulirkan oleh Wolfgang Riefel, selaku pemimpin redaksi Nuernberger Zeitung. Wolfgang Riefel menyatakan, media baru bukanlah pengganti atau subtitusi media lama melainkan merupakan tambahan atau kumulatif.
Ketika sejumlah surat kabar berlomba meluncurkan versi media online dimana versi tercetak di-posting secara online di situs media bersangkutan, sejumlah pengamat media meramalkan, bahwa tidak lama lagi, pelanggan terdidik menengah ke atas akan berhenti berlangganan surat kabar tercetak. Pasalnya, karena apa yang diberitakan di media cetak, sudah dapat diakses seketika, dengan menggunakan ponsel dimana pun dan kapan saja.
Sebagaimana diketahui, teknologi informasi telah membentuk kebiasaan baru masyarakat. Bagi siapa saja yang tidak segera menyesuaikan diri, ia akan tertinggal dan dilupakan. Hukum aksiomatik teknologi berkembang berdasarkan deret ukur, melampaui deret hitung. Jika tidak berani melakukan lompatan penyesuaian, kita akan tertinggal jauh. Demikianlah sifat perubahan dan penetrasi teknologi komunikasi terhadap pola dan gaya hidup dalam pergaulan masyarakat moderen.
Sebagai media yang baru eksis dengan usia relatif masih muda (empat tahun), keputusan meluncurkan media berita versi online melalui portal berita secara real time, dapat dipandang sebagai langkah berani yang penuh tantangan dan risiko. Tantangannya, media online membutuhkan penangan SDM yang faham karakteristik jurnalistik media cyber dengan kesigapan prasyarat antisipasif, khususnya implikasi atas sejumlah masalah cyber law yang sewaktu-waktu bisa bermasalah. Risikonya, Tribun Timur harus bisa mengendalikan diri, jika sewaktu-waktu (di masa datang) terjadi migrasi kebiasaan dari tradisi membaca media cetak menuju kebiasaan baru yang hanya doyan membaca media online, sebagaimana yang diprediksi Bill Gates.
Untuk menelisik bagaimana wujud ramalan-prediksi- antara penggiat media cyber oleh Bill Gates, dan aktifis media cetak yang dipelopori oleh Wolfgang Riefel, penulis tidak akan melihatnya secara vis a vis yang berangkat dari salah satu sudut pandang ekstrem masing-masing pihak. Sangat boleh jadi, beberapa sudut pandang dari mereka berdua, memiliki unsur kekuatan realibilitas (berpeluang menjadi nyata). Bahkan, dari keduanya sangat mungkin mengalami proses sinergisitas dalam wujud mutual simbiosis (berhubungan yang saling menguntungkan).
Setidaknya, sinergisitas kedua sisi pandang tersebut, mulai tampak pada inovasi media cetak Tribun Timur, khususnya ketika berinisiatif meluncurkan portal Tribun-Timur.Com sebagai media online. Menariknya, karena Tribun Timur tidak lagi sekadar memindahkan isi (content) edisi media cetak (print edition) ke media online di portal www. tribun-timur.com. Sejak September 2007, seiring dengan pertumbuhan pesat media cetak Tribun Timur (bertumbuh pesat sekitar 1500 persen) masyarakat luas sudah dapat mengakses berita Tribun Timur secar real time. Jika sebelumnya, berita real time (kejadian aktual) menjadi market leader segenap media siaran, maka saat ini, hal itu sudah terbagi ke media cetak versi online.
Model pemberitaan secara real time melalui media online yang isinya tidak lagi berupa copy paste dari edisi cetak, menjadi menarik secara menantang untuk dicermati ke depan, khususnya terhadap wujud -nasib- media massa cetak sebagaimana ramalan Bill Gates dan Wolfgang Riefel.
Jika saja Tribun Timur sekadar mem-posting isi beritanya di portal media online sebagaimana halnya yang ada di versi media cetak (copy paste), sangat boleh jadi, di masa depan, orang tidak lagi begitu membutuhkan media massa berita versi cetak (media print), akan terjadi migrasi pembaca ke media online, sebagaimana prediksi Bill Gates. Logikanya sederhana, yaitu jika berita yang sama sudah tersedia dan sewaktu-waktu sudah bisa diakses dimana saja, maka untuk apa lagi berlangganan media cetak?
Akan tetapi, jika ketersediaan informasi di media online tampil dengan sifat, bentuk dan dengan isi yang berbeda dari apa yang tersaji di versi media cetak, maka orang akan tetap membutuhkan versi media cetak. Terlebih lagi, jika isi berita dan informasi yang tersaji di versi media online hanya bersifat informatif dini secara aktual, dan masih perlu pendalaman atau investigatisi dari beberapa sudut pandang. Pendalaman atau investigasi kejadian sebagai peristiwa berita yang sudah tertuang di media online tersebut, tentunya masih memerlukan waktu kerja yang cukup. Pada sisi inilah, posisi dan peran media cetak tidak tergantikan. Bahkan, bisa memamfaatkan dan memenangkan situasi atas kebutuhan informasi yang konprehensif dan mendalam dari khalayak pembaca.
Dalam konteks dan perspektif inilah, maka ke depan, Tribun Timur semakin mendesak untuk melakukan sinergisitas isi dan format berita, antara versi media cetak dengan versi media online. Bukan untuk saling mematikan atau berkompetisi, tetapi seyogyanya bisa bersinergi, saling menghidupkan secara siombiosis. Contohnya, jika sebuah berita X yang tersaji di versi media online mendapat respon yang meluas dan positif dari pengakses, -mengingat di media online, respon pengakses dapat diketahui secepatnya, tidak sebagaimana di media cetak- maka untuk edisi media cetak, masalah X tersebut harus mendapat perhatian untuk menjadi pembahasan secara konprehensif dan mendalam.
Dengan demikian, maka paling tidak, khalayak pembaca akan tetap membutuhkan kedua bentuk media tersebut. Maka dalam pada itu, inovasi teknologi informasi di media Tribun Timur untuk saat ini dan kedepan, dalam perspektif prediksi Bill Gates, tidaklah sepenuhnya benar. Di sisi lain, pandangan Wolfgang Riefel, menjadi patut dan relevan untuk dipertimbangkan.
Teknologi Informasi
Dalam catatan HUT Ke- 4 Tribun Timur (9/2-2008) Dahlan, selaku pemimpin redaksi Tribun Timur, menulis, dalam masyarakat yang berubah, ada satu kekuatan yang begitu dahsyat yang mendorong, menciptakan, dan mengarahkan perubahan. Kekuatan dahsyat itu adalah teknologi informasi. Lebih lanjut, Dahlan mengutip pandangan Charles Darwin, bahwa untuk mampu bertahan di era teknologi dengan perubahan yang gencar dan dahsyat itu, dibutuhkan kemampuan penyesuaian diri. Bahwa pada akhirnya, bukan yang kuat yang bertahan hidup (survival), melainkan yang bisa menyesuaikan diri. Terbukti, banyak media besar dan kuat, yang pada akhirnya punah, karena tidak mampu menyesuaikan diri.
Teknologi informasi adalah lokomotif perubahan. Siapa yang tidak mampu mengantisipasinya akan tergilas oleh roda sejarah perubahan. Tidak sedikit persoalan yang ditimbulkan oleh inovasi IT (Teknologi Informasi) tersebut. Maka, perdebatan pun bermunculan. Salah satunya, adalah pandangan yang mempolemikkan, bahwa perkembangan IT seharusnya mempermudah persoalan hidup manusia, bukan justru memperumit kehidupan, dengan menciptakan ketergantungan dan keterjajahan oleh IT. Di tengah polemik tersebut, setidaknya dibutuhnya pemahaman tentang karakteristik dinamika IT itu sendiri, dalam kaitannya dengan eksistensi dan relevansi kebutuhan manusia. Tanpa pemahaman dasar seperti itu, akan sulit mensikapi arus dahsyat perubahan IT yang terus mengejolak di tengah kehidupan kita.
Dalam kajian media, ada tiga pendekatan upaya memahami perkembangan teknologi komunikasi (Wilhelm, 2000). Pertama, pendekatan Dystopian. Kelompok ini, sangat hati-hati dan bersikap kritis tehadap penerapan teknologi komunikasi, sebab dampak yang ditimbulkan, bisa mengacaukan kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik suatu bangsa. Di antara tokoh pendukung Dystopian, adalah; Edmun Husserl, Heidegger, dan Hanna Arendt.
Pandangan kedua, berasal dari kaum Neo Futuris. Kelompok ini, didukung oleh John Naisbitt, Alvin Toffler, dan nicholas Negroponte. Mereka berpandangan, bahwa kehadiran IT harus diterima sebagai bentuk kemajuan dan kreativitas manusia. Mereka menolak kaum Dystopian yang lebih banyak bernostalgia dan menganggap kemajuan teknologi yang tidak terkontrol, bisa mengancam eksistensi manusia.
Salah seorang tokoh Neo Futuris, Alvin Toffler, mengatakan, bahwa daripada berjuang sia-sia untuk membatasi percepatan ritme kehidupan kontemporer (kehidupan moderen berdasarkan teknologi), maka yang mendesak, adalah kita seharusnya berupaya terus menerus memperbaiki dan berpikir ulang mengenai tujuan sosial kita, dari sudut perubahan yang revolusioner. Dampak dari ketidaksiapan menghadapi perubahan dan kemajuan teknologi tersebut, adalah terjadinya goncangan masa depan (future Shock). Olehnya itu, kata Toffler, dari pada memunculkan pemberontakan melawan masa depan, maka harus sejak sekarang, mulai mengantisipasinya dengan mendesain masa depan itu sendiri.
Pandangan ketiga, menamakan diri sebagai Teknorealis. Faham ini, bertujuan untuk menjadi juru damai antara pandangan Dystopian dan Neo Futuris dalam hal penerapan teknologi komunikasi dan dampaknya dalam kehidupan masyarakat. Teknorealis berpendapat, bahwa teknologi tidaklah netral, dimana misalnya, temuan dan dampak internet adalah revolusioner, membawa perubahan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, dan hal itu bukan utopia, tetapi sebuah kenyataan yang harus dihadapi. Mereka menyadari, bahwa saat ini telah terjadi ironi kemajuan IT yang banyak berakhir dengan memperalat manusia dalam kehidupannya. Padahal awalnya, IT dimaksudkan sebagai alat mengontrol ruang dan waktu bagi kepentingan manusia. Bukan justeru sebaliknya. Kelompok Teknorealis banyak dipelopori oleh kaum profesional, termasuk sejumlah jurnalis dan akademisi yang bergerak dalam kajian teknologi media.
Pada akhirnya, kita pun harus bertanya. Model perubahan dengan cara pandang yang mana akan dilakukan oleh media Tribun Timur? Kita tunggu hasilnya. (***)

Link.:: Tribun Timur Makassar OnlineFeb 11, '08 10:14 AM
for everyone
Link: http://www.tribun-timur.com

http://www.tribun-timur.com/view.php?id=63288



Sabtu, 09-02-2008
tribun-timur.com
Catatan HUT Ke-4 Tribun Timur

KITA hidup dalam masyarakat yang mengalami perubahan secara cepat. Jenis kebutuhan masyarakat juga cepat berubah, demikian pula cara memenuhinya.
Surat kabar, sebagai mana juga lembaga-lembaga bisnis lainnya, dituntut senantiasa memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan itu ia akan tetap eksis. Tapi bila gagal ia punah.
Saya selalu mengutip Charles Darwin (12 Februari 1809-19 April 1882) ketika mengingatkan teman-teman kerja di kantor mengenai sengitnya persaingan.
Kata ahli teori evolusi itu: "Bukan yang kuat yang bertahan hidup melainkan yang bisa menyesuaikan diri."

Kuat bukanlah resep untuk bertahan. Perusahaan yang kuat hari ini bukan karena dia benar-benar kuat, melainkan bisa menyesuaikan diri dengan perubahan.
Masyarakat berubah, kebutuhannya berubah, cara memenuhi kebutuhannya pun berubah. Dulu orang senang membaca berita yang pajang-panjang. Sekarang, waktu membaca surat kabar menjadi sangat singkat.
Dulu orang senang membaca pidato, sekarang tidak lagi. Kebutuhan akan berita berubah, begitu pula cara menyajikannya.
Tribun Timur tumbuh sekitar 1.500 persen sejak kuartal kedua 2004 hingga kuartal terakhir 2007.
Kami senang bukan saja karena angka pertumbuhan yang fantastis itu. Yang jauh lebih penting, Tribun Timur, isi maupun cara penyajiannya, mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berubah.

DALAM masyarakat yang berubah itu, ada satu kekuatan yang begitu dahsyat yang mendorong, menciptakan, dan mengarahkan perubahan. Bukan cuma perubahan di sini, di Makassar, tapi juga di dunia.
Kekuatan yang dahsyat itu adalah teknologi informasi. Teknologi ini kita temukan di komputer maupun telepon selular (ponsel). Di sana ada juga internet.
Pada 2007, sekitar 31,5 juta orang Indonesia menggunakan internet. Rata-rata tumbuh lebih tiga juta pengguna internet tiap tahun dalam 10 tahun terakhir.
Pengguna internet di Singapura tumbuh 68 persen tapi jumlah pengguna hanya 2,4 juta. Pengguna internet di Indonesia hanya tumbuh 8,9 persen tapi mencapai 20 juta orang.
Pengguna internet itu berusia 10-39 tahun. Mereka bersentuhan dengan internet di kafe, sekolah atau kampus, tempat kerja, dan rumah.
Sampai dengan 20 tahun ke depan, generasi internet inilah yang akan mewarnai Indonesia.
Melihat data-data internetworldstats.com pada 2007, dapatlah dikatakan bahwa jumlah pengguna internet merupakan sisi Indonesia yang membanggakan.
Penetrasinya memang masih rendah, hanya 8,5 persen dari total populasi, jauh tertinggal dari bangsa-bangsa maju seperti Jepang (68,7 persen) atau bahkan Malaysia (60 persen).
Tapi dibanding India, salah satu raksasa ekonomi dunia, penetrasi Indonesia lebih baik.
Asia merupakan kawasan pengguna internet terbesar di dunia, 510 juta, mengalahkan Eropa dan Amerika Utara.
Dari segi jumlah, pengguna internet Indonesia merupakan ketiga terbesar di Asia setelah Jepang dan Cina.
Jumlah 31,5 juta pengguna internet di Indonesia memang bukan jumlah yang sedikit. Jumlah itu jauh lebih besar dari seluruh penduduk satu benua Australia. Juga lebih besar dari gabungan antara penduduk Malaysia dan Singapura.

BAGAIMANA dengan Makassar? Dari segi jumlah belum terlalu fantastis. Data PT Telkom Makassar menyebutkan, layanan internet mencakup 15 ribu pelanggan yang mengakses via Telkomnet Instant dan 2.300 pelanggan yang mengakses internet melalui Speedy.
Telkom menyiapkan 20 ribu satuan sambungan layanan (SSL) telepon Speedy untuk layanan internet selama 2008 ini.
Fasilitas hotspot di Makassar, yang mulai diperkenalkan di Pantai Losari pada 27 Mei 2007, diperkirakan mendongkrak pengguna internet, baik melalui laptop maupun ponsel.
Saat ini, hampir seluruh pusat perbelanjaan, hotel, rumah makan, dan kafe menyiapkan fasilitas hotspot, beberapa di antaranya gratis.
Fasilitas hotspot juga sudah masuk ke kampus-kampus bahkan kantor partai politik.
Hotspot mengubah gaya hidup sebagian warga Makassar.
Di warung kopi, suasana berubah gara-gara hotspot: dari mengobrol saja menjadi mengakses internet.
Di kampus, hotspot mengubah gaya hidup mahasiswa: dari keranjingan demo menjadi kecanduan internet.
Kita sudah melihat kecenderungan global akibat pengaruh teknologi informasi, yang secara perlahan-lahan menyeret masyarakat Makassar.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, berkat hotspot, kota ini akan benar-benar menjadi "cyber city".

BAGAIMANA Tribun Timur merespon perubahan tersebut? Sejak 24 September 2007, kami membentuk tim kecil untuk melakukan perubahan total terhadap isi (content) www.tribun-timur.com.
Dulunya, kami hanya mengikuti kecenderungan surat kabar lain di Indonesia. Isi surat kabar Tribun Timur edisi cetak di-posting ke www.tribun-timur.com.
Di Indonesia, hanya koran-koran besar di Jakarta, Kompas misalnya, yang menggabungkan isi print edition dengan edisi real time. Selebihnya, portal surat kabar hanya berisi berita-berita edisi cetak.
Dengan menyajikan berita-berita real time, www.tribun-timur.com menjadi portal berita real time pertama di luar Jakarta. Sambutan masyarakat ternyata luar biasa.
Di lingkungan Kompas Gramedia, inovasi Tribun Timur ini dijadikan model bagi seluruh koran daerah.
Kami senang bahwa sebentar lagi koran lain di Makassar akan mengikuti langkah kami. Sang pemimpin memang selalu diikuti langkahnya.
Pada ulang tahun yang keempat, 9 Februari 2008, ini, kami ingin menyatakan terima kasih kepada seluruh pembaca dan relasi bisnis.
PT Indopersda Primamedia, holding Kompas Gramedia yang menaungi seluruh koran daerah Kompas Gramedia, menetapkan Tribun Timur sebagai koran terbaik 2007 dari sisi pertumbuhan financial, customer perspective, business procces, dan inovation.
Portal Tribun, www.tribun-timur.com, merupakan salah satu inovasi kami untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berubah.
Akhirnya, kata Darwin: "Bukan yang kuat yang bertahan hidup melainkan yang bisa menyesuaikan diri."
Pembaca, kami memohon doa. Dengan doa kita semua, secara resmi kami luncurkan portal Tribun, www.tribun-timur.com. Semoga bermanfaat untuk masyarakat.

Tribun Timur,
Selalu yang Pertama

Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com

Hotline SMS untuk berlangganan Tribun
Timur edisi cetak: 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555) (*)

Saya kutip dari koran Tribun Timur, Makassar, terbitan edisi Sabtu, 9 Februari 2008.

http://www.tribun-timur.com/view.php?id=63288



Sabtu, 09-02-2008
tribun-timur.com
Catatan HUT Ke-4 Tribun Timur
 
KITA hidup dalam masyarakat yang mengalami perubahan secara cepat. Jenis kebutuhan masyarakat juga cepat berubah, demikian pula cara memenuhinya.
Surat kabar, sebagai mana juga lembaga-lembaga bisnis lainnya, dituntut senantiasa memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengan itu ia akan tetap eksis. Tapi bila gagal ia punah.
Saya selalu mengutip Charles Darwin (12 Februari 1809-19 April 1882) ketika mengingatkan teman-teman kerja di kantor mengenai sengitnya persaingan.
Kata ahli teori evolusi itu: "Bukan yang kuat yang bertahan hidup melainkan yang bisa menyesuaikan diri."
 
Kuat bukanlah resep untuk bertahan. Perusahaan yang kuat hari ini bukan karena dia benar-benar kuat, melainkan bisa menyesuaikan diri dengan perubahan.
Masyarakat berubah, kebutuhannya berubah, cara memenuhi kebutuhannya pun berubah. Dulu orang senang membaca berita yang pajang-panjang. Sekarang, waktu membaca surat kabar menjadi sangat singkat.
Dulu orang senang membaca pidato, sekarang tidak lagi. Kebutuhan akan berita berubah, begitu pula cara menyajikannya.
Tribun Timur tumbuh sekitar 1.500 persen sejak kuartal kedua 2004 hingga kuartal terakhir 2007.
Kami senang bukan saja karena angka pertumbuhan yang fantastis itu. Yang jauh lebih penting, Tribun Timur, isi maupun cara penyajiannya, mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berubah.

DALAM masyarakat yang berubah itu, ada satu kekuatan yang begitu dahsyat yang mendorong, menciptakan, dan mengarahkan perubahan. Bukan cuma perubahan di sini, di Makassar, tapi juga di dunia.
Kekuatan yang dahsyat itu adalah teknologi informasi. Teknologi ini kita temukan di komputer maupun telepon selular (ponsel). Di sana ada juga internet.
Pada 2007, sekitar 31,5 juta orang Indonesia menggunakan internet. Rata-rata tumbuh lebih tiga juta pengguna internet tiap tahun dalam 10 tahun terakhir.
Pengguna internet di Singapura tumbuh 68 persen tapi jumlah pengguna hanya 2,4 juta. Pengguna internet di Indonesia hanya tumbuh 8,9 persen tapi mencapai 20 juta orang.
Pengguna internet itu berusia 10-39 tahun. Mereka bersentuhan dengan internet di kafe, sekolah atau kampus, tempat kerja, dan rumah.
Sampai dengan 20 tahun ke depan, generasi internet inilah yang akan mewarnai Indonesia.
Melihat data-data internetworldstats.com pada 2007, dapatlah dikatakan bahwa jumlah pengguna internet merupakan sisi Indonesia yang membanggakan.
Penetrasinya memang masih rendah, hanya 8,5 persen dari total populasi, jauh tertinggal dari bangsa-bangsa maju seperti Jepang (68,7 persen) atau bahkan Malaysia (60 persen).
Tapi dibanding India, salah satu raksasa ekonomi dunia, penetrasi Indonesia lebih baik.
Asia merupakan kawasan pengguna internet terbesar di dunia, 510 juta, mengalahkan Eropa dan Amerika Utara.
Dari segi jumlah, pengguna internet Indonesia merupakan ketiga terbesar di Asia setelah Jepang dan Cina.
Jumlah 31,5 juta pengguna internet di Indonesia memang bukan jumlah yang sedikit. Jumlah itu jauh lebih besar dari seluruh penduduk satu benua Australia. Juga lebih besar dari gabungan antara penduduk Malaysia dan Singapura.

BAGAIMANA dengan Makassar? Dari segi jumlah belum terlalu fantastis. Data PT Telkom Makassar menyebutkan, layanan internet mencakup 15 ribu pelanggan yang mengakses via Telkomnet Instant dan 2.300 pelanggan yang mengakses internet melalui Speedy.
Telkom menyiapkan 20 ribu satuan sambungan layanan (SSL) telepon Speedy untuk layanan internet selama 2008 ini.
Fasilitas hotspot di Makassar, yang mulai diperkenalkan di Pantai Losari pada 27 Mei 2007, diperkirakan mendongkrak pengguna internet, baik melalui laptop maupun ponsel.
Saat ini, hampir seluruh pusat perbelanjaan, hotel, rumah makan, dan kafe menyiapkan fasilitas hotspot, beberapa di antaranya gratis.
Fasilitas hotspot juga sudah masuk ke kampus-kampus bahkan kantor partai politik.
Hotspot mengubah gaya hidup sebagian warga Makassar.
Di warung kopi, suasana berubah gara-gara hotspot: dari mengobrol saja menjadi mengakses internet.
Di kampus, hotspot mengubah gaya hidup mahasiswa: dari keranjingan demo menjadi kecanduan internet.
Kita sudah melihat kecenderungan global akibat pengaruh teknologi informasi, yang secara perlahan-lahan menyeret masyarakat Makassar.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, berkat hotspot, kota ini akan benar-benar menjadi "cyber city".

BAGAIMANA Tribun Timur merespon perubahan tersebut? Sejak 24 September 2007, kami membentuk tim kecil untuk melakukan perubahan total terhadap isi (content) www.tribun-timur.com.
Dulunya, kami hanya mengikuti kecenderungan surat kabar lain di Indonesia. Isi surat kabar Tribun Timur edisi cetak di-posting ke www.tribun-timur.com.
Di Indonesia, hanya koran-koran besar di Jakarta, Kompas misalnya, yang menggabungkan isi print edition dengan edisi real time. Selebihnya, portal surat kabar hanya berisi berita-berita edisi cetak.
Dengan menyajikan berita-berita real time, www.tribun-timur.com menjadi portal berita real time pertama di luar Jakarta. Sambutan masyarakat ternyata luar biasa.
Di lingkungan Kompas Gramedia, inovasi Tribun Timur ini dijadikan model bagi seluruh koran daerah.
Kami senang bahwa sebentar lagi koran lain di Makassar akan mengikuti langkah kami. Sang pemimpin memang selalu diikuti langkahnya.
Pada ulang tahun yang keempat, 9 Februari 2008, ini, kami ingin menyatakan terima kasih kepada seluruh pembaca dan relasi bisnis.
PT Indopersda Primamedia, holding Kompas Gramedia yang menaungi seluruh koran daerah Kompas Gramedia, menetapkan Tribun Timur sebagai koran terbaik 2007 dari sisi pertumbuhan financial, customer perspective, business procces, dan inovation.
Portal Tribun, www.tribun-timur.com, merupakan salah satu inovasi kami untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berubah.
Akhirnya, kata Darwin: "Bukan yang kuat yang bertahan hidup melainkan yang bisa menyesuaikan diri."
Pembaca, kami memohon doa. Dengan doa kita semua, secara resmi kami luncurkan portal Tribun, www.tribun-timur.com. Semoga bermanfaat untuk masyarakat.

Tribun Timur,
Selalu yang Pertama

Ada peristiwa menarik?
SMS www.tribun-timur.com di 081.625.2233
email: tribuntimurcom@yahoo.com

Hotline SMS untuk berlangganan Tribun
Timur edisi cetak: 081.625.2266.
Telepon: 0411 (8115555) (*)
 

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help